Tak ada cinta yang lebih besar dari cinta orang tua kepada anak-anaknya. Kira-kira itulah yang mampu menggambarkan Erlan Bombom, seorang ayah dari bocah 9 tahun bernama Faris. Pegawai salah satu perusahaan swasta itu rela melakukan apa saja demi perkembangan karakter positif sang buah hati tercinta sebagai persiapannya kelak mengarungi samudera kehidupan.
Seperti pada minggu, 22 November 2009. Di pagi yang cerah itu, Erlan menyempatkan diri bersepeda bersama sang anak tercinta. Mereka mengayuh sepeda jauh-jauh dari rumahnya di Lenteng Agung hingga Universitas Indonesia. Namun tak tampak raut lelah dimuka mereka, yang ada malah raut kegembiraan dapat bersepeda bersama-sama, setelah 6 hari disibukan dengan rutinitas masing-masing.
Setelah sekitar 20 menit mengayuh, sampai juga mereka dihutan UI, salah satu tempat favorit untuk bersepeda. Trek licin melengkung yang disediakan bagi pesepeda ditempat tersebut seakan menggoda Faris untuk mencobanya. Namun ia tak kuasa menahan rasa takutnya. Sang ayah lalu mencoba menguatkan mental sang anak untuk berani melibas jalur terjal tersebut, dengan harapan sang anak mampu melibas perkara-perkara sulit dalam hidupnya kelak.
Bak bunga mekar setelah ditetesi embun pagi, nyali bocah itu meningkat. Dengan dukungan dari ayahanda tercinta, tanpa ragu lagi ia menuruni trek licin tersebut dan berhasil sampai pada ujung jalur. Ekspresi bangga tak bisa ditutupi sang ayah melihat keberhasilan puteranya. Sama berharapnya ketika melihat keberhasilan puteranya dalam hidup kelak. Begitupun sang anak, bak menyabet medali emas dalam turnamen besar, ia girang bukan main setelah berhasil melewati jalur tersebut. Rasanya lengkap sudah suasana pagi itu.
Kepercayaan diri Faris meningkat, untuk kesekian kalinya ia berhasil dan mulai terbiasa melalui jalur itu. Namun brukk! Faris tidak memperhatikan tanah licin yang dilalui sehingga ia jatuh tersungkur tanah. Sepeda kesayangannya menimpa diatas tubuhnya yang kecil. Sang ayah dengan sigap datang untuk memberikan pertolongan. seketika raut muka Faris meringis kesakitan bercampur menahan tangis.
Sang ayah memeriksa tubuh faris sambil terus memberikan dukungan. Luka lecet dilutut dan lengan ditutupi dengan plester dukungan dari ayahanda, membuat Faris kembali melanjutkan bersepedanya bersama ayahanda yang siap memberikan yang terbaik bagi anaknya. sambil sesekali bercanda diselingi sisa-sisa sakit lukanya. Seperti kata orang bijak “yang terpenting dalam hdup ini adalah bukan saat kita jatuh, namun pada saat kita bangkit dari kejatuhan”. FBN
Selasa, 01 Desember 2009
Langganan:
Postingan (Atom)