Sabtu, 22 Mei 2010

New Media, Tantangan Dunia Jurnalistik

Jakarta_ Perkembangan teknologi memiliki dampak besar terhadap aktivitas manusia, tak terkecuali di dunia jurnalistik. Munculnya portal berita dan blog mengisyaratkan dunia jurnalistik masuk ke tahap baru, istilah yang biasa dekenal adalah New Media.

Dalam kuliah umum IISIP Jakarta, (22/05/10), Putu Laksman Pendit yang hadir sebagai pembicara mengatakan new media merupakan istilah terhadap media yang telah bertransformasi ke dalam tiga bentuk, yaitu online journalism, open publishing dan bloging.

"Akibat new media, fakta, realita dan kebenaran tidak lagi di monopoli oleh media, sekarang semua orang boleh menyampaikan fakta. permasalahan yang timbul hanya etika", paparnya di depan ratusan mahasiswa di Auditorium IISIP Jakarta.

Oleh sebab itu Putu menambahkan bahwa jurnalis sebagai seorang profesional memiliki tantangan baru. salah satu cara menghadapinya adalah dengan menerapkan kaedah-kaedah jurnalistik yang benar.

"Saya kira dampak yang muncul dari Junk Media tersebut adalah munculnya Slow Media, yang mengedepankan nilai-nilai lama, yaitu penyampaian fakta dan data secara jernih dan lengkap", tambahnya. (fbn)

Senin, 10 Mei 2010

MUI: Seksologi di Indonesia, belum perlu

JAKARTA -Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengatakan bahwa Kurikulum pendidikan di Indonesia belum bisa memasukkan pendidikan seks sebagai mata pelajaran di sekolah. seperti yang dikutip pada, Selasa (11/5/2010).

"Kalau di negara barat, itu namanya seksologi. Kalau di negara barat, itu wajar. Tapi kalau di Indonesia sendiri sih harus hati-hati ya menurut saya. Jadi kalau mau mengajarkan seks di Indonesia atau memasukkan satu mata pelajaran ke kurikulum pelajaran, itu sangat sulit. Mungkin ini perlu tapi lebih ke bimbingan," ungkap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amidhan.

Amidhan menambahkan bahwa cara orang tua dalam memberi pendidikan seks kepada anak-anak, adalah dengan lebih mendekatkan diri, dan mengisi waktu luang bersama.

"Keinginan-keinginan itu harus dibantu, karena situs porno itu sangat luar biasa. Dengan itu kita bisa sedikit-sedikit memberitahukan apa bahaya dan kegunaan seks itu sendiri, khususnya untuk para gadis. Sebagai orangtua harus ekstra ketat untuk memberitahukan mereka karena mereka butuh bimbingan untuk mengetahui hal-hal tersebut," terang Amidhan.

Dalam survei terakhir, Komisi Perlindungan Anak (KPA) mengungkapkan data bahwa 97 persen remaja di Indonesia pernah menonton atau mengakses pornografi, 93 persen pernah berciuman, 62,7 persen pernah berhubungan badan, serta 21 persen remaja telah melakukan aborsi.

Hasil survei tersebut disampaikan Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring dalam seminar bertajuk, Sinergi Pemerintah dan Industri Perfilman Nasional dalam Membentuk Masyarakat Madani, yang diselenggarakan FISIP UNPAD, Bandung, pekan lalu.(fbn)

Minggu, 02 Mei 2010

May Day Bukan Sekedar Peringatan

Tanggal satu mei atau lebih populer dengan istilah May Day merupakan hari buruh internasional. Peristiwa ini diinspirasi oleh mogoknya 400.000 buruh pabrik di Amerika Serikat menuntut pengurangan 16jam kerja pada tahun 1886.

Pemogokan pertama kelas pekerja Amerika Serikat terjadi di tahun 1806 oleh pekerja Cordwainers. Pemogokan ini membawa para pengorganisirnya ke meja pengadilan dan juga mengangkat fakta bahwa kelas pekerja di era tersebut bekerja dari 19 sampai 20 jam seharinya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menuntut direduksinya jam kerja menjadi agenda bersama kelas pekerja di Amerika Serikat.

Pada tanggal 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di kota New York dengan peserta 20.000 orang yang membawa spanduk bertulisan "8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi".

Pada tanggal 1 Mei tahun 1886, sekitar 400.000 buruh di Amerika Serikat mengadakan demonstrasi besar-besaran untuk menuntut pengurangan jam kerja mereka menjadi 8 jam sehari. Aksi ini berlangsung selama 4 hari sejak tanggal 1 Mei.

Aksi unjuk rasa tersebut akhirnya membesar dan menyulut pergerakan kaum buruh di kota-kota besar di Amerika Serikat lainnya, ribuan buruh tumpah kejalan mengakibatkan bentrok dengan kepolisian tak dapat dihindarkan. Peristiwa tersebut memakan korban jiwa dari kedua belah pihak.

Pada 1887, Oregon menjadi negara bagian pertama yang menjadikannya hari libur umum. Pada 1894. Presider Grover Cleveland menandatangani sebuah undang-undang yang menjadikan minggu pertama bulan September hari libur umum resmi nasional.

Kongres Internasional Pertama diselenggarakan pada September 1866 di Jenewa, Swiss, dihadiri berbagai elemen organisasi pekerja belahan dunia. Kongres ini menetapkan sebuah tuntutan mereduksi jam kerja menjadi delapan jam sehari, yang sebelumnya (masih pada tahun sama) telah dilakukan National Labour Union di AS.

Satu Mei ditetapkan sebagai hari perjuangan kelas pekerja dunia pada Konggres 1886 oleh Federation of Organized Trades and Labor Unions, untuk memberikan momen tuntutan delapan jam sehari, memberikan semangat baru perjuangan kelas pekerja yang mencapai titik masif di era tersebut.

Tanggal 1 Mei dipilih karena pada 1884 Federation of Organized Trades and Labor Unions, yang terinspirasi oleh kesuksesan aksi buruh di Kanada 1872, menuntut delapan jam kerja di Amerika Serikat dan diberlakukan mulai 1 Mei 1886.

Lagi, 1 Mei 2010, buruh di penjuru dunia, termasuk Indonesia, merayakan kenangan pembebasan buruh yang mereka impi-impikan. ribuan buruh tumpah di jalan-jalan ibukota, menempati simbol-simbol kekuasaan atas hak mereka.

Semoga kita tidak menganggap hari buruh sebagai hari peringatan biasa laiknya perayaan ulang tahun seseorang, namun menjadi momentum percepatan kesejahteraan bagi kaum yang "paling rajin" namun paling menderita tersebut. Mari berjuang, karena kita akan jadi buruh!. (fbn)

Baca...Pikir...Lawan...!

Catatan si Pembangkang

"Siapakah Aku?" Mataku tertuju pada kalimat yang tertera pada cover buku di teras sebuah toko buku kecil bilangan Depok. terselip diantara puluhan buku lain, bertumpuk, berserak tak beraturan siap dibeli. "pertanyaan macam apa itu?", pikirku.

Demi memenuhi rasa penasaran, ku sentuh ujungya yang agak kusam dan kutarik keluar. sekian detik ku bolak-balik halaman demi halaman, kubaca cepat untuk sekedar mengetahui sebenarnya buku apa ini?

"huhh ternyata buku filsafat". sebenarnya aku kurang tertarik pada buku-buku "berat" macam ini, namun aku penasaran pada judul pertama yang kubaca, "siapakah aku?". rasa penasaran ini membimbing tangan ku mempertahankan buku untuk terus kubaca walau setengah hati.

Hampir 20 menit aku asik membaca buku tersebut, Sampai aku sadari, penjaga toko buku memandangiku dengan pandangan aneh, "ya, aku tau artinya". dengan berat hati kuputuskan menaruh buku tersebut dan beranjak pergi, tentu tak lupa mengucapkan terima kasih meskipun dibalas dengan tatapan yang sama. "biarlah", pikirku.

Langkahku berlanjut menapaki lorong kecil yang ramai, masih dibilangan Depok. sesekali bahuku meliuk-liuk seperti penari pementasan ballet, menghindar dari mahasiswa/i yang berhenti untuk membeli buku atau keperluan lainnya. entah mengapa riuhnya suasana lorong yang bisa disebut "pasar mahasiswa" itu tak membuat kepalaku berfikir seperti biasa, bebas.

Seisi kepalaku masih fokus tertinggal di buku tebal yang kubaca di toko barusan. berapa halaman yang sempat kulahap tadi belum bisa memenuhi kegairahanku menemukan jawaban tersebut, "Siapakah Aku?"

Pertanyaan tersebut seketika membawa alam pikiranku ke masa lampau, meraba potongan peristiwa masa kecilku yang tersisa didasar tumpukan memori, menjelajahi masa akhil balik penuh warna, hingga menembus periode beberapa tahun belakang yang baru ku lewati dengan penuh pertentangan. Begitupun siang malamku selanjutnya, bergulat dengan pertanyaan yang terus muncul seiring ku menemukan jawaban.

Sungguh menyakitkan ketika alam pikiranku masuk ke lorong waktu dan memaksa menjelajahi setiap ruang masa kelamku yang kusimpan rapi tak tersentuh hingga sekarang. membongkar sisi negatifku, kepicikanku, kepalsuanku, sikap pembangkangku, semuanya sampai aku benar-benar "malu ditelanjangi tak ada ampun".

Aku malu kepada diriku sendiri, setelah lelah bermain diatas panasnya bara cinta, kuguyur begitu saja hingga rintihan sakit si batang kayu memekakan telingaku. Mudah, tinggal ku mohon ampun atas kekhilafan seorang "pesakitan" ini. inilah dosa terbesar dalam hidup seorang "pembangkang". "menyakitkan namun jujur".

Aku baru sadar bahwa ini yang dimaksud dengan sepenggal kalimat yang kuingat dalam buku tersebut, "Tak banyak orang yang berani menghadapi pertanyaan mendasar dalam hidupnya dengan terbuka, karena prosesnya akan sulit dan menyakitkan, mengabaikan pertanyaan ini membuat hidup dijalani dengan tidak sadar".

Entah apa pesan yang tersirat dari pergulatanku ini, sementara roda-roda terus berputar, tanda hidup terus berjalan. tak mungkin kuratapi saja cermin buruk ini. dengan segera kuhabiskan alkohol yang tinggal setengah itu dan beranjak ke dunia mimpi, sambil hati berkeras memburu kesempatan bersimpuh atas dosa-dosa selama ini. "sebelum hatiku jadi beku, otaku jadi debu, dan AKU jadi ABU..."

Seorang Pria Tidak Makan dan Minum 70 Tahun

Di India, menjalankan puasa penuh delapan hari memang sudah menjadi hal yang umum bagi umat Hindu. Secara teori, manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa makan dan minum selama 50 hari.

New Delhi, Prahlad Jani, Seorang pria India yang sudah berusia 82 tahun mengaku tidak makan dan minum selama 70 tahun. kemampuan ia bertahan tanpa makanan dan minuman menarik perhatian Militer India untuk menelitinya.

Prahlad Jani mengaku telah meninggalkan rumah sejak umur 7 tahun dan hidup sebagai pengembara Sadhu atau orang suci di Rajasthan. Jani disebut sebagai breatharian yang dapat hidup sendiri secara spiritual.

Jani meyakini hidupnya telah ditopang oleh seorang dewi yang menuangkan ramuan gaib melalui langit-langit mulutnya. Pengakuan Jani ini didukung oleh seorang dokter India yang ahli dalam bidang studi tentang orang-orang yang memiliki kemampuan supranatural.

Kini Prahlad Jani berada di ruang isolasi sebuah Rumah Sakit di Ahmedabad, Gujarat dan diawasi ketat oleh tim dokter. Jani sudah berada di rumah sakit itu selama 6 hari tanpa makan dan minum, dan dari hasil pemeriksaan tidak ada tanda-tanda Jani mengalami kelaparan dan dehidrasi.

Kemampuan Prahlad Jani tersebut mendapat perhatian dari Pihak militer India untuk mempelajari ilmu Prahland Jani. Mereka berharap bisa diterapkan pada anggota pasukannya atau pada korban bencana sebelum bantuan tiba.

"Jika klaim itu bisa diverifikasi, itu akan menjadi terobosan dalam ilmu kedokteran," kata Dr G. lavazhagan, Direktur Ilmu Fisiologi & Ilmu Terpadu, Institut Pertahanan. "Kita bisa mendidik masyarakat tentang teknik-teknik bertahan hidup dalam kondisi buruk dengan sedikit makanan dan air atau tidak sama sekali" tambahnya. (fbn)

Jumat, 30 April 2010

Pakai Data Basi, BPS Dikritik Rakyat Miskin

Kamis (29/04/10) "Pelaksanaan sensus 2010 akan dianggap gagal, kalau ternyata BPS tetap mempergunakan 14 kriteria miskin yang sudah lama", tegas Ketua Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) , Sarfian Wiresapta, di Lombok Tengah, Kamis (29/4).

“Kalau BPS tetap ngotot menggunakan 14 kriteria itu, maka jumlah orang miskin yang terdata akan sangat sedikit. Padahal, pada kenyataannya, rakyat semakin merasakan kesulitan ekonomi,” lanjutnya saat menyampaikan orasi dalam aksi SRMI di depan kantor BPS Lombok tengah.

Sarfian menjelaskan, kriteria yang dipergunakan BPS sangat minimal dan tidak relevan dengan perkembangan saat ini, sehingga dapat dipastikan gagal memotret kemiskinan di tengah masyarakat.

Dia mencontohkan, BPS menganggap bahwa mereka yang bisa menyicil kendaraan bermotor tidak dikategorikan miskin, padahal sebagian besar warga menyicil kendaraan bermotor justru untuk menambah pemasukan seperti menjadi tukang ojek.

Dia juga menyesalkan pelaksanaan sensus BPS yang bersamaan dengan musim panen, sebab hal tersebut berpotensi mengurangi gambaran jumlah orang miskin. (fbn)

Kamis, 29 April 2010

Andi: Atlet harus Sarjana!

JAKARTA - Ada baiknya prestasi seorang atlet diimbangi dengan kualitas pendidikan yang dimiliki. Setidaknya itulah pernyataan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga (Menegpora) Andi Mallarangeng, yang berharap semua atlet Indonesia mengantongi gelar sarjana.

Saat ini, kementrian pemuda dan olahraga tengah menggalakkan pengembangan olahraga pendidikan, dengan menggelar pendidikan dan pelatihan (diklat) berbagai cabang untuk para siswa SMA. Ya, seorang atlet yang dipupuk sejak usia dini diharapkan mampu berprestasi, namun dengan catatan tidak meninggalkan kewajibannya sebagai seorang pelajar.

“Seorang atlet memang butuh pembinaan sejak usia dini. Oleh karena itu, adanya pengembangan olahraga pendidikan yang menyatu dengan sekolah mampu menciptakan atlet berprestasi, tanpa harus meninggalkan pelajaran,” ujar Andi, saat meresmikan AQUA-Danone Nations Cup Indonesia 2010 di Jakarta, Kamis (29/4/2010).

Tak dipungkiri, seorang atlet memang dituntut untuk berprestasi di bidangnya. Namun, kualitas pendidikan juga dibutuhkan guna mendukung perilaku mereka, baik saat sedang bertanding maupun di luar arena.

Sah saja jika Menegpora mengharapkan semua atlet Indonesia menyandang gelar sarjana, demi menciptakan atlet berprestasi yang berkualitas. “Harapan saya, atlet nasional semua sarjana, atau paling tidak mempunyai dasar pendidikan minimal setingkat SMA,” imbuhnya.

Minggu, 28 Februari 2010

Jadi Pembangkang Sejati !

Pembangkang, adalah suatu kata penggambaran seseorang yang tidak bisa diatur, maunya pakai aturan sendiri, ndablek kalau kata orang jawa, pokoknya semacam pemberontak lah karena menurutnya, dia yang benar, tak mau menuruti orang lain, penentang sejati dan sejenisnya. Atau teman-teman punya definisi khusus? Saya rasa cukup.

Selama berabad-abad silam, pemuka agama, elit pemerintahan, raja-raja, guru, orang tua sekalipun mengajarkan bahwa “ketaatan adalah suatu keutamaan, patuh adalah hal baik dan pembangkangan atau ketidakpatuhan adalah sebuah kejahatan”.

Namun sifat pembangkang saya yang konon katanya jahat, mengusik rasa kepatuhan saya saat mendengar hal itu. “Masak sih kepatuhan itu adalah kebaikan dan ketidakpatuhan adalah kejahatan?” kalau saya sih nggak percaya, Tak tau teman-teman. Oleh sebab itu saya tertarik untuk mendiskusikan masalah bangkang-mambangkang ini dari sudut pandang yang berbeda.

Erich Fromm, seorang ahli psikoanalisa terapan pernah mengatakan, “Semua martir suci agama, martir kebebasan, martir ilmu pengetahuan sepanjang sejarah adalah PEMBANGKANG di zamannya”.
Ini terlepas dari anda setuju atau tidak, namun yang jelas pernyataan tersebut dapat dibuktikan dengan merefleksikan sejarah umat manusia yang justru dimulai dari sejarah pembangkangan, yaitu Adam dan Hawa yang membangkang otoritas yang sudah mapan (Tuhan )dengan memakan buah terlarang.

Jika dirunut ke periode setelah itu, malah banyak lagi manusia-manusia yang mencerahkan dunia, membawa obor di tengah kegelapan dengan sifat pembangkangnya. Banyak tokoh mulai dari filsuf era awal, Anaximender, Thales dan Anaximenes yang tidak percaya pada penciptaan dunia 6 hari oleh Tuhan hingga Soe Hok Gie yang menjadi ”Pembangkang di setiap rezim” pada era pasca kemerdekaan.

Kita tentu ingat seorang filsuf pencerahan, Plato memikirkan tentang keharmonisan bernegara dengan menentang raja-raja saat itu dan pada akhir, nyawanya berakhir di tiang gantungan. Tak usah jauh-jauh, pahlawan hak asasi manusia, pembangkang orde baru, Munir tak jauh beda nasibnya dengan pendahulunya. Hidupnya berakhir ditengah pembangkangannya terhadap ketidakadilan rezim ini.

Bagi saya, ini merupakan signal kuat bagi kita para penerus kehidupan ini untuk terus memberikan perlawanan-perlawanan terhadap pemikiran-pemikiran mainstream saat ini sampai hari esok. Sejarah sudah terlanjur mencatat bahwa manusia punya tanggung jawab memperbaiki kehidupan di masanya dengan sikap-sikap pembangkang macam tokoh-tokoh diatas.

Tetapi, apakah tindakan asal membangkang itu dianjurkan?

Pada intinya, sikap pembangkang ini pertama-tama bukanlah suatu sikap yang diarahkan untuk “Melawan sesuatu”, melainkan “Demi sesuatu”. Demi suatu kesadaran nyata akan suara mayoritas. kita mengetahui bahwa tindakan asal membangkang itu tentu hal yang bodoh, sejarah mengajarkan kita untuk melawan sesuatu kemapanan dengan visi dan misi yang jelas.

Tidak harus agresif untuk membangkang sesuatu, cukup membuka mata, bangun, sadarkan diri, dengar suara hati dan berani “membangunkan” sesama yang terbuai dalam bahaya mimpi semata.

Cukup relevan dengan saat ini, pemikiran-pemikiran mainstream rezim sekarang harus sama-sama kita didik dengan perlawanan-perlawanan dengan dasar suara hati dan peneguhan terhadap akal sehat. Jika sejarah manusia dimulai dari tindakan pembangkangan, saya takut sejarah manusia berakhir jika manusia mengisi hidupnya hanya dengan kepatuhan-kepatuhan menjerumuskan.

Ehehehehe…apakah ada kawan-kawan yang ingin membangkangi tulisan saya? Berarti anda membaca dengan baik. FBN

Waduh, Ternyata Rakyata Belum Kenal Menterinya

Fabian Januarius Kuwado - http://www.okezone.com/

JAKARTA - Sejak dilantik pada Oktober 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono beserta para menteri telah bekerja selama 100 hari. Tapi sayangnya, tak banyak masyarakat yang tahu siapa saja menteri yang membantu Presiden di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II.

Andi Suwandi, seorang petugas keamanan di kawasan SCBD, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, mengaku tidak tahu persis siapa-siapa saja menteri yang duduk di kabinet saat ini.

"Wah, saya nggak hafal," jawabnya saat ditemui okezone, Rabu (3/2/1020).

Senada dengan Andi, Indra dan Ajeng yang berkantor di kawasan yang sama juga terlihat bingung saat ditanya siapa saja menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid II.

"Nggak inget," jawab Sangky, seorang pelajar yang juga ditanya hal yang sama.

Mayoritas mereka juga mengaku tidak terlalu merasakan kerja pemerintah meski sudah melewati masa 100 hari pemerintahan SBY-Boediono. Bagi mereka, belum ada perbedaan yang signifikan jika dibandingkan pemerintahan yang lalu. (lam)