Minggu, 28 Februari 2010

Jadi Pembangkang Sejati !

Pembangkang, adalah suatu kata penggambaran seseorang yang tidak bisa diatur, maunya pakai aturan sendiri, ndablek kalau kata orang jawa, pokoknya semacam pemberontak lah karena menurutnya, dia yang benar, tak mau menuruti orang lain, penentang sejati dan sejenisnya. Atau teman-teman punya definisi khusus? Saya rasa cukup.

Selama berabad-abad silam, pemuka agama, elit pemerintahan, raja-raja, guru, orang tua sekalipun mengajarkan bahwa “ketaatan adalah suatu keutamaan, patuh adalah hal baik dan pembangkangan atau ketidakpatuhan adalah sebuah kejahatan”.

Namun sifat pembangkang saya yang konon katanya jahat, mengusik rasa kepatuhan saya saat mendengar hal itu. “Masak sih kepatuhan itu adalah kebaikan dan ketidakpatuhan adalah kejahatan?” kalau saya sih nggak percaya, Tak tau teman-teman. Oleh sebab itu saya tertarik untuk mendiskusikan masalah bangkang-mambangkang ini dari sudut pandang yang berbeda.

Erich Fromm, seorang ahli psikoanalisa terapan pernah mengatakan, “Semua martir suci agama, martir kebebasan, martir ilmu pengetahuan sepanjang sejarah adalah PEMBANGKANG di zamannya”.
Ini terlepas dari anda setuju atau tidak, namun yang jelas pernyataan tersebut dapat dibuktikan dengan merefleksikan sejarah umat manusia yang justru dimulai dari sejarah pembangkangan, yaitu Adam dan Hawa yang membangkang otoritas yang sudah mapan (Tuhan )dengan memakan buah terlarang.

Jika dirunut ke periode setelah itu, malah banyak lagi manusia-manusia yang mencerahkan dunia, membawa obor di tengah kegelapan dengan sifat pembangkangnya. Banyak tokoh mulai dari filsuf era awal, Anaximender, Thales dan Anaximenes yang tidak percaya pada penciptaan dunia 6 hari oleh Tuhan hingga Soe Hok Gie yang menjadi ”Pembangkang di setiap rezim” pada era pasca kemerdekaan.

Kita tentu ingat seorang filsuf pencerahan, Plato memikirkan tentang keharmonisan bernegara dengan menentang raja-raja saat itu dan pada akhir, nyawanya berakhir di tiang gantungan. Tak usah jauh-jauh, pahlawan hak asasi manusia, pembangkang orde baru, Munir tak jauh beda nasibnya dengan pendahulunya. Hidupnya berakhir ditengah pembangkangannya terhadap ketidakadilan rezim ini.

Bagi saya, ini merupakan signal kuat bagi kita para penerus kehidupan ini untuk terus memberikan perlawanan-perlawanan terhadap pemikiran-pemikiran mainstream saat ini sampai hari esok. Sejarah sudah terlanjur mencatat bahwa manusia punya tanggung jawab memperbaiki kehidupan di masanya dengan sikap-sikap pembangkang macam tokoh-tokoh diatas.

Tetapi, apakah tindakan asal membangkang itu dianjurkan?

Pada intinya, sikap pembangkang ini pertama-tama bukanlah suatu sikap yang diarahkan untuk “Melawan sesuatu”, melainkan “Demi sesuatu”. Demi suatu kesadaran nyata akan suara mayoritas. kita mengetahui bahwa tindakan asal membangkang itu tentu hal yang bodoh, sejarah mengajarkan kita untuk melawan sesuatu kemapanan dengan visi dan misi yang jelas.

Tidak harus agresif untuk membangkang sesuatu, cukup membuka mata, bangun, sadarkan diri, dengar suara hati dan berani “membangunkan” sesama yang terbuai dalam bahaya mimpi semata.

Cukup relevan dengan saat ini, pemikiran-pemikiran mainstream rezim sekarang harus sama-sama kita didik dengan perlawanan-perlawanan dengan dasar suara hati dan peneguhan terhadap akal sehat. Jika sejarah manusia dimulai dari tindakan pembangkangan, saya takut sejarah manusia berakhir jika manusia mengisi hidupnya hanya dengan kepatuhan-kepatuhan menjerumuskan.

Ehehehehe…apakah ada kawan-kawan yang ingin membangkangi tulisan saya? Berarti anda membaca dengan baik. FBN

Waduh, Ternyata Rakyata Belum Kenal Menterinya

Fabian Januarius Kuwado - http://www.okezone.com/

JAKARTA - Sejak dilantik pada Oktober 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Boediono beserta para menteri telah bekerja selama 100 hari. Tapi sayangnya, tak banyak masyarakat yang tahu siapa saja menteri yang membantu Presiden di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II.

Andi Suwandi, seorang petugas keamanan di kawasan SCBD, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, mengaku tidak tahu persis siapa-siapa saja menteri yang duduk di kabinet saat ini.

"Wah, saya nggak hafal," jawabnya saat ditemui okezone, Rabu (3/2/1020).

Senada dengan Andi, Indra dan Ajeng yang berkantor di kawasan yang sama juga terlihat bingung saat ditanya siapa saja menteri Kabinet Indonesia Bersatu jilid II.

"Nggak inget," jawab Sangky, seorang pelajar yang juga ditanya hal yang sama.

Mayoritas mereka juga mengaku tidak terlalu merasakan kerja pemerintah meski sudah melewati masa 100 hari pemerintahan SBY-Boediono. Bagi mereka, belum ada perbedaan yang signifikan jika dibandingkan pemerintahan yang lalu. (lam)