Malam itu nampak seperti biasanya, beberapa manusia mencoba melawan hawa dingin dengan berendam di semacam danau kecil berisi air panas, manusia yang lain membawa kotak berisi bungkusan berwarna merah, cokelat, hitam, di tukarkan bungkusan tersebut dengan lembaran berwarna hijau, biru. Di sisi sebelah ujung beberapa berpasang-pasangan saling berhadapan. tak tau lah apa yang sedang mereka lakukan. Dan aku masih sama di tempat faforitku, hinggap di kayu lapuk sebuah gubug.
Bagi kalian yang mengenalku, pasti bingung dan bertanya-tanya, apa yang aku lakukan di batang pohon, berjam-jam, berhari-hari tanpa bergerak banyak. aku mendengarkan. Yaa, aku dan teman-temanku mendengarkan semua yang terjadi, kami selalu bertukar cerita. Mendengarkan cerita manusia yang lewat, tentang masalah-masalah mereka, tentang teman satu perjalanannya. Kadang aku berfikir apa yang mereka cari di rumahku ini. Sependengaran saya sih mencari kebebasan, katanya. Entahlah, karena kudengar, mereka suka berbohong.
Seperti malam ini, dengan jelas aku mendengarkan 4 manusia mendiskusikan perjalanan mereka selama beberapa hari kemarin. Mereka memulai pembicaraan dengan serius. Setiap orang diberi kesempatan bicara tentang masing-masing dari mereka, yang berbadan agak besar sangat bernafsu sekali membicarakan hal itu, yang agak kalem di sebelahnya ikut menimpali. Yang tinggi nampak malu-malu mengutarakannya, namun rasanya tak mampu ia menahan kata-katanya dan akhirnya keluar juga, sedang yang berambut panjang terlihat selalu berhati-hati dalam merangkai kata.
Dari pembicaran mereka, aku jadi ingat tadi siang, seorang kawan datang dan menceritakan bahwa di atas sana, ada enam manusia sedang kebingungan menentukan tujuannya, sebagian ingin terus naik ke atas, sebagian lagi tak bisa. Mereka dilema ingin mengatasnamakan apa perjalanan mereka itu, solidaritas kah? Ambisi kah? atau kondisional kah? Namun belum sempat ia menceritakan sepenuhnya, ia sudah dipanggil ibunya. Aku baru sadar ternyata mereka yang diceritakan kawanku telah berpisah dan keempatnya ada di bawah badanku.
Mereka melanjutkan pembicaraan dengan sangat serius, namun maaf, aku tak bisa menceritakan isi pembicaraan mereka kepadamu, ini rahasia di alam. Hanya aku dan mereka yang tau. Merekapun entah menyadari atau tidak pembicaraannya didengarkan. Namun aku pastikan diriku tersembunyi dan mereka tak mampu melihatku. Aku berfikir sejenak, begitu berbahayakah rumahku ini bagi sebuah persahabatan? Aku yakin mereka bukan orang yang baru kenal satu dua hari dan melakukan perjalanan ini, Mungkin bahkan lebih dari umurku.
Beginilah rumahku, banyak manusia yang datang untuk sekedar berwisata, namun banyak juga yang mencari makna hidup melalui sebuah perjalanan alam bebas. Mereka menyerahkan diri untuk diuji oleh alam, diuji kesetiakawanannya, diuji jiwa kepemimpinannya, diuji kerjasama satu sama lain dan yang paling penting manusia diuji ke takwaannya, karena rumahku adalah milik-Nya. Tak ada yang pasti di rumahku, semuanya dapat terjadi, konflik, damai, pertentangan ego dan hanya akal dan hati bersih yang mampu melewati ujian itu.
Aku terbangun dari tidur ku yang mungkin hanya sebentar. Untuk kesekian kalinya aku mendahului matahari. Aku melirik ke bawah, kosong. Aku terbang mencari kemana empat manusia ini pergi. Dari atas bukit aku bisa melihat mereka, berjalan menyusuri aspal tak tau kemana selanjutnya akan pergi. Aku tak melihat jarak diantara hati mereka, semuanya telah menyatu. Semoga kau percaya aku dapat melihat itu. Aku meluncur pulang ke tempat faforit ku sambil tersenyum lega, “Memang tak ada yang pasti di alam, namun aku yakin perjalanan itu pasti menguatkan mereka, bukan memisahkan, karena ini bukan masalah tujuan, ini tentang pencarian makna”.(FBN)
Selasa, 15 Februari 2011
Sabtu, 29 Januari 2011
Catatan si Pembangkang II
Saya yakin semua diantara kita pasti punya kesalahan-kesalahan masa lalu (yang ngga mau ngaku ke laut aje lo, hari gini masih aje ngga jujur). Saya yakin lagi bahwa sebagian besar dari kesalahan-kesalahan itu tidak diiringi kata maaf (kalo lupa, coba deh inget-inget dulu). Ngomongin tentang kesalahan masa lalu sekaligus permintaan maaf-nya, saya jadi teringat akan kisah dari negeri antah berantah.
Di sebuah kampung, terdengar kabar bahwa Kang Sarpin meninggal dunia pukul enam pagi tadi akibat kecelakaan lalu lintas. Sepeda yang ia kendarainya bersama sekuintal beras terlintang di jalanan. Sebuah truk menghajar sepedanya dari belakang saat Kang Sarpin menaiki sepedanya dan oleng akibat kehilanggan keseimbangan. Lelaki lima puluhan tahun itu tewas seketika.
Berita kematian tersebut sampai kepada saya lewat ipar Kang Sarpin sendiri, Dalban. Lekukan mukanya terlihat biasa saja ketika menyampaikan kabar duka itu, mulutnya malah cengar-cengir. Kematian Kang Sarpin tampak bagai bukan berita duka.
Begitu juga di rumah Kang Sarpin, tak tampak suasana duka mendalam dari warga kampung atas kematian Kang Sarpin, mereka duduk-dukuk sambil merokok dan ngopi seperti malam kendurian saja. jika ada yang bermata sembab karena sehabis menangis, hanyalah istri Kang Sarpin, ia berduka seorang diri tampaknya.
“ya, wong gemblung itu sudah meninggal”, oceh Dalban dengan santainya. ”bagaimana dia ngga dibilang wong gemblung, coba denger; suatu ketika di kilang padi orang-orang menantang Sarpin, bila berani membuka celana di depan orang banyak, akan menang lima puluh ribu”. tanpa banyak pikir, telanjang lah ia seketika itu juga, dengan kelamin berayun ia menghampiri si penantang sambil menagih uang taruhan sambil cengengesan. Cerita tersebut di sambut gelak tawa pelawat yang datang, hanya berjarak tiga langkah kaki dari jenasah Kang Sarpin yang terbujur kaku.
Aku menghela nafas agak panjang sambil mengerutkan alis. “ya, memang begitulah dia”, ujarku dalam hati. Orang sekampung sudah paham tabiat Kang Sarpin, jangankan telanjang bulat ddi depan orang, ada lagi tabiat busuknya yang tak kalah tenarnya, ia doyan main perempuan, jangan tanya jumlah perempuan yang ditidurinya, puluhan! Meskipun, ia agak baik dengan berprinsip tidak meniduri wanita bersuami.
Dalban terus mengoceh dan warga terus menyimaknya, ditengah itu saya merenungi peristiwa semalam. Kang Sarpin datang kerumah saya sebelum tengah malam, wajahnya kelihatan berat. Ia diam sejenak saat kutanya maksud dan tujuannya, tepat setelah jangkrik berhenti berbunyi ia memulai ceritanya, “Mas kan tau saya orng begini, orang jelek, wong gemblung, doyan perempuan. Saya merasa orang sekampung akan lebih senang jika saya tak ada lagi, saya itu aib di kampung ini”.
Senyum yang dari tadi kutahan akhirnya lepas juga, “looh, kayaknya semua orang sudah tau siapa kamu, dan sepertinya tak ada orang yang mengusikmu, kenapa harus pusing?”. “saya tidak mau terusan begini mas, saya jadi omongan sekampung, apalagi sebentar lagi saya punya cucu, saya sudah ngga mau jadi wong gemblung, saya ingin jadi wong bener, orang baik-baik, tapi bagaimana yaa?”.
Lagi-lagi saya tak bisa menahan senyum, “loh yang begitu kok tanya saya?, ya dari akang sendiri lah yang rasa, kan semuanya tergantung Kang Sarpin sendiri, kalo mau jadi baik ya jadilah baik, tapi kalo masih mau jadi wong gemblung, ya terserah”.
Wajah Kang Sarpin menunduk berat, aku rasakan penyesalannya di hembusan nafasnya yang tak muda lagi. Lama kami terdiam memberikan izin jangkrik bersuara. “ah mas tidak tau sih apa yang terjadi dalam diri saya, burung saya ini lho mas, burung saya! Betapapun saya ingin berhenti main perempuan, burung saya memaksa, tidak bisa diatur dia. Bila sedang mau, sama sekali ngga bisa dicegah, dia harus dituruti, saya saja jengkel dibuatnya. Saya datang kemari untuk minta bantuan”.
“Saya mau mengebiri burung saya”, ujarnya yakin. Sampai bosan rasanya jangkrik berhenti lalu bersuara lagi, malam itu kami berbincang lama sekali hingga Kang Sarpin yakin ia akan mengebiri burungnya di kampung seberang besok pagi setelah menjual beras.
Saya tersadar ketika semua orang bangkit berdiri, rupanya imam yang ingin menyolatkan Kang Sarpin terakhir kalinya sudah datang. Kini suasana hening, Dalban yang sedari tadi ngoceh juga ikut hening. Setelah melakukan serangkaian doa, jasadnya hendak dimasukan keliang lahat, namun sebelum itu Imam mengutarakan sesuatu, “Saudara-saudara saya meminta kalian bersaksi apakah orang yang hendak kita kubur adalah orang baik-baik?”, semua diam dan saling mengintip berpandangan.
Saya yakin semua orang yang hadir disana serba salah. Masih hening hingga imam bertanya sekali lagi apakah jenasah yang akan dimakamkan adalah orang baik-baik? Tanpa terencana di otak, saya langsung bicara……semua orang tertegun……entahlah, saat itu saya hanya bisa menatap mereka dengan senyuman. Keranda bergerak diarak empat remaja yang memikulnya.
Di mata saya, seorang lelaki yang diujung hidupnya sempat bercita-cita jadi wong bener adalah orang baik. Entahlah bagi orang lain, entah pula bagi Tuhan.
Saya tidak tau harus menyimpulkan apa lagi dari cerita diatas, saya hanya ingin menjalani hidup seperti manusia diujung ajalnya. Saya minta maaf. FBN
Di sebuah kampung, terdengar kabar bahwa Kang Sarpin meninggal dunia pukul enam pagi tadi akibat kecelakaan lalu lintas. Sepeda yang ia kendarainya bersama sekuintal beras terlintang di jalanan. Sebuah truk menghajar sepedanya dari belakang saat Kang Sarpin menaiki sepedanya dan oleng akibat kehilanggan keseimbangan. Lelaki lima puluhan tahun itu tewas seketika.
Berita kematian tersebut sampai kepada saya lewat ipar Kang Sarpin sendiri, Dalban. Lekukan mukanya terlihat biasa saja ketika menyampaikan kabar duka itu, mulutnya malah cengar-cengir. Kematian Kang Sarpin tampak bagai bukan berita duka.
Begitu juga di rumah Kang Sarpin, tak tampak suasana duka mendalam dari warga kampung atas kematian Kang Sarpin, mereka duduk-dukuk sambil merokok dan ngopi seperti malam kendurian saja. jika ada yang bermata sembab karena sehabis menangis, hanyalah istri Kang Sarpin, ia berduka seorang diri tampaknya.
“ya, wong gemblung itu sudah meninggal”, oceh Dalban dengan santainya. ”bagaimana dia ngga dibilang wong gemblung, coba denger; suatu ketika di kilang padi orang-orang menantang Sarpin, bila berani membuka celana di depan orang banyak, akan menang lima puluh ribu”. tanpa banyak pikir, telanjang lah ia seketika itu juga, dengan kelamin berayun ia menghampiri si penantang sambil menagih uang taruhan sambil cengengesan. Cerita tersebut di sambut gelak tawa pelawat yang datang, hanya berjarak tiga langkah kaki dari jenasah Kang Sarpin yang terbujur kaku.
Aku menghela nafas agak panjang sambil mengerutkan alis. “ya, memang begitulah dia”, ujarku dalam hati. Orang sekampung sudah paham tabiat Kang Sarpin, jangankan telanjang bulat ddi depan orang, ada lagi tabiat busuknya yang tak kalah tenarnya, ia doyan main perempuan, jangan tanya jumlah perempuan yang ditidurinya, puluhan! Meskipun, ia agak baik dengan berprinsip tidak meniduri wanita bersuami.
Dalban terus mengoceh dan warga terus menyimaknya, ditengah itu saya merenungi peristiwa semalam. Kang Sarpin datang kerumah saya sebelum tengah malam, wajahnya kelihatan berat. Ia diam sejenak saat kutanya maksud dan tujuannya, tepat setelah jangkrik berhenti berbunyi ia memulai ceritanya, “Mas kan tau saya orng begini, orang jelek, wong gemblung, doyan perempuan. Saya merasa orang sekampung akan lebih senang jika saya tak ada lagi, saya itu aib di kampung ini”.
Senyum yang dari tadi kutahan akhirnya lepas juga, “looh, kayaknya semua orang sudah tau siapa kamu, dan sepertinya tak ada orang yang mengusikmu, kenapa harus pusing?”. “saya tidak mau terusan begini mas, saya jadi omongan sekampung, apalagi sebentar lagi saya punya cucu, saya sudah ngga mau jadi wong gemblung, saya ingin jadi wong bener, orang baik-baik, tapi bagaimana yaa?”.
Lagi-lagi saya tak bisa menahan senyum, “loh yang begitu kok tanya saya?, ya dari akang sendiri lah yang rasa, kan semuanya tergantung Kang Sarpin sendiri, kalo mau jadi baik ya jadilah baik, tapi kalo masih mau jadi wong gemblung, ya terserah”.
Wajah Kang Sarpin menunduk berat, aku rasakan penyesalannya di hembusan nafasnya yang tak muda lagi. Lama kami terdiam memberikan izin jangkrik bersuara. “ah mas tidak tau sih apa yang terjadi dalam diri saya, burung saya ini lho mas, burung saya! Betapapun saya ingin berhenti main perempuan, burung saya memaksa, tidak bisa diatur dia. Bila sedang mau, sama sekali ngga bisa dicegah, dia harus dituruti, saya saja jengkel dibuatnya. Saya datang kemari untuk minta bantuan”.
“Saya mau mengebiri burung saya”, ujarnya yakin. Sampai bosan rasanya jangkrik berhenti lalu bersuara lagi, malam itu kami berbincang lama sekali hingga Kang Sarpin yakin ia akan mengebiri burungnya di kampung seberang besok pagi setelah menjual beras.
Saya tersadar ketika semua orang bangkit berdiri, rupanya imam yang ingin menyolatkan Kang Sarpin terakhir kalinya sudah datang. Kini suasana hening, Dalban yang sedari tadi ngoceh juga ikut hening. Setelah melakukan serangkaian doa, jasadnya hendak dimasukan keliang lahat, namun sebelum itu Imam mengutarakan sesuatu, “Saudara-saudara saya meminta kalian bersaksi apakah orang yang hendak kita kubur adalah orang baik-baik?”, semua diam dan saling mengintip berpandangan.
Saya yakin semua orang yang hadir disana serba salah. Masih hening hingga imam bertanya sekali lagi apakah jenasah yang akan dimakamkan adalah orang baik-baik? Tanpa terencana di otak, saya langsung bicara……semua orang tertegun……entahlah, saat itu saya hanya bisa menatap mereka dengan senyuman. Keranda bergerak diarak empat remaja yang memikulnya.
Di mata saya, seorang lelaki yang diujung hidupnya sempat bercita-cita jadi wong bener adalah orang baik. Entahlah bagi orang lain, entah pula bagi Tuhan.
Saya tidak tau harus menyimpulkan apa lagi dari cerita diatas, saya hanya ingin menjalani hidup seperti manusia diujung ajalnya. Saya minta maaf. FBN
Jumat, 28 Januari 2011
Tiga Warna, Sejuta Pesona
Pada kesempatan ini, saya mengajak kita semua untuk melakukan perjalanan ke Danau Tiga Warna, Kelimutu yang berada di utara pulau Flores, tepatnya di Desa Pemo, Kecamatan Moni, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Menurut beberapa sumber yang ditemui, waktu terbaik menikmati pemandangan di danau alami yang terletak di atas Gunung Kelimutu itu adalah pagi hari saat matahari terbit.
Perjalanan pun dimulai dari kota Ende yang berjarak kurang lebih dua jam dengan kecepatan standar. Kurang lebih pukul 03.30 WITA saya mempersiapkan segala sesuatunya. Tidak begitu mudah akses transportasi menuju ke danau tersebut, namun wisatawan lokal maupun asing biasa memilih untuk menyewa kendaraan lewat agen-agen wisata setempat, atau jika pandai mendekati masyarakat lokal, tidak sulit kita bisa menyewa sepeda motor dari mereka, Seperti yang saya lakukan sekarang. Tapi jangan lupa untuk memeriksa kondisi kendaraan sebelumnya, jangan sampai wisata anda terganggu oleh kendala teknis yang diakibatkan karena kelalaian kita sendiri.
Atau jika kita tidak ingin terburu-buru berangkat dini hari, bisa juga memilih untuk menginap di beberapa home stay yang dikelola oleh penduduk sekitar dengan kisaran harga Rp. 25.000,- hingga Rp. 50.000,-. Atau kita juga bisa menginap di cottage yang disediakan pemerintah setempat dengan kisaran harga Rp. 50.000,- hingga Rp. 75.000,-. Semua tergantung kebutuhan anda.
Kurang lebih dua jam menyusuri jalan berkelok-kelok, jurang dan tebing di sisi-sisinya, serta kondisi jalanan yang kurang begitu mulus di beberapa bagian hingga kita bisa sampai di Kampung Moni, kampung yang terletak di kaki Gunung Kelimutu. Hawa dingin menyengat hingga ke tulang, pakaian hangat lapis tiga yang saya kenakan tak mampu menahannya. Namun untuk satu pemandangan indah, tak mungkinlah saya menyerah.
Dari Kampung Moni, Danau yang pernah masuk nominasi keajaiban dunia itu tinggal berjarak tempuh 45 menit saja. jalan yang saya lalui mulai menyempit dan menanjak, namun pemandangan alam di sisi kiri dan kanan membuat perjalanan melelahkan dan penuh tantangan ini tak terasa. Untuk memasuki taman nasional Kelimutu ini, kita hanya membayar retribusi sebesar dua ribu rupiah saja.
Tibalah saya di titik terakhir pemberhentian kendaraan bermotor. Untuk sampai ke bibir danau, kita masih harus menapaki anak tangga dan jalan bebatuan kurang lebih 20 menit. Bagi anda yang memiliki alergi dingin, disarankan untuk memakai pakaian yang tebal. Kicauan burung dan suara serangga hutan menemani tiap langkah menuju danau yang terletak 1690 meter di atas permukaan laut itu. Tiap langkah saya lalui hingga akhirnya sampailah saya di puncak point of view.
Tergores ciptaan Yang Maha Esa di depan mata, tiga danau berbentuk kawah yang terpisah di sisi kiri dan kanan saya. Danau disebelah kiri saya berwarna hitam kecoklatan atau dalam bahasa daerah disebut Tiwu Ata Mbupu yang Menurut kepercayaan masyarakat lokal, danau tersebut adalah persinggahan arwah-arwah orang tua. Sedang yang di sebelah kanan saya dua danau terpisah tebing tipis, yang berwarna biru muda masyarakat lokal menyebutnya Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai atau danau persemayaman arwah muda-mudi. Sedang yang paling kiri berwarna hijau tua bernama Tiwu Ata Polo, yang dipercayai sebagai persemayaman arwah orang-orang jahat.
Menurut warga lokal yang menemani disitu, Saya termasuk orang yang beruntung karena disambut oleh seekor kera terpisah dari kelompoknya yang berasal dari sekitar lereng Gunung Kelimutu. Masyarakat setempat percaya bahwa danau tersebut adalah danau keramat dan memberikan kesuburan pada daerah sekitarnya, maka tak jarang sering diadakan upacara adat di danau tersebut dimana masyarakat memberikan persembahan hasil bumi kepada arwah di danau yang jika ditotal berukuran 1.051.000 tersebut.
Perubahan Alam, Kepercayaan Abadi
Gunung Kelimutu pernah meletus pada tahun 1886 dan meninggalkan tiga kawah berbentuk danau yang warna airnya dapat berubah-ubah secara tak terduga sesuai dengan kandungan mineral dan cuaca. Perubahan tak terduga warna air danau tersebut menjadikan misteri tersendiri yang belum mampu dipecahkan hingga sekarang. Patut diketahui, dahulu danau ini pernah berwarna merah, putih dan biru.
Bagai dua sisi mata uang yang tak mampu dipisahkan, perubahan alami berjalan harmonis dengan kepercayaan abadi masyarakat lokal membuat danau ajaib ini menjadi daya tarik sendiri bagi semua orang terkhusus bagi anda penggiat alam bebas dan penggemar pemandangan alam. FBN
Perjalanan pun dimulai dari kota Ende yang berjarak kurang lebih dua jam dengan kecepatan standar. Kurang lebih pukul 03.30 WITA saya mempersiapkan segala sesuatunya. Tidak begitu mudah akses transportasi menuju ke danau tersebut, namun wisatawan lokal maupun asing biasa memilih untuk menyewa kendaraan lewat agen-agen wisata setempat, atau jika pandai mendekati masyarakat lokal, tidak sulit kita bisa menyewa sepeda motor dari mereka, Seperti yang saya lakukan sekarang. Tapi jangan lupa untuk memeriksa kondisi kendaraan sebelumnya, jangan sampai wisata anda terganggu oleh kendala teknis yang diakibatkan karena kelalaian kita sendiri.
Atau jika kita tidak ingin terburu-buru berangkat dini hari, bisa juga memilih untuk menginap di beberapa home stay yang dikelola oleh penduduk sekitar dengan kisaran harga Rp. 25.000,- hingga Rp. 50.000,-. Atau kita juga bisa menginap di cottage yang disediakan pemerintah setempat dengan kisaran harga Rp. 50.000,- hingga Rp. 75.000,-. Semua tergantung kebutuhan anda.
Kurang lebih dua jam menyusuri jalan berkelok-kelok, jurang dan tebing di sisi-sisinya, serta kondisi jalanan yang kurang begitu mulus di beberapa bagian hingga kita bisa sampai di Kampung Moni, kampung yang terletak di kaki Gunung Kelimutu. Hawa dingin menyengat hingga ke tulang, pakaian hangat lapis tiga yang saya kenakan tak mampu menahannya. Namun untuk satu pemandangan indah, tak mungkinlah saya menyerah.
Dari Kampung Moni, Danau yang pernah masuk nominasi keajaiban dunia itu tinggal berjarak tempuh 45 menit saja. jalan yang saya lalui mulai menyempit dan menanjak, namun pemandangan alam di sisi kiri dan kanan membuat perjalanan melelahkan dan penuh tantangan ini tak terasa. Untuk memasuki taman nasional Kelimutu ini, kita hanya membayar retribusi sebesar dua ribu rupiah saja.
Tibalah saya di titik terakhir pemberhentian kendaraan bermotor. Untuk sampai ke bibir danau, kita masih harus menapaki anak tangga dan jalan bebatuan kurang lebih 20 menit. Bagi anda yang memiliki alergi dingin, disarankan untuk memakai pakaian yang tebal. Kicauan burung dan suara serangga hutan menemani tiap langkah menuju danau yang terletak 1690 meter di atas permukaan laut itu. Tiap langkah saya lalui hingga akhirnya sampailah saya di puncak point of view.
Tergores ciptaan Yang Maha Esa di depan mata, tiga danau berbentuk kawah yang terpisah di sisi kiri dan kanan saya. Danau disebelah kiri saya berwarna hitam kecoklatan atau dalam bahasa daerah disebut Tiwu Ata Mbupu yang Menurut kepercayaan masyarakat lokal, danau tersebut adalah persinggahan arwah-arwah orang tua. Sedang yang di sebelah kanan saya dua danau terpisah tebing tipis, yang berwarna biru muda masyarakat lokal menyebutnya Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai atau danau persemayaman arwah muda-mudi. Sedang yang paling kiri berwarna hijau tua bernama Tiwu Ata Polo, yang dipercayai sebagai persemayaman arwah orang-orang jahat.
Menurut warga lokal yang menemani disitu, Saya termasuk orang yang beruntung karena disambut oleh seekor kera terpisah dari kelompoknya yang berasal dari sekitar lereng Gunung Kelimutu. Masyarakat setempat percaya bahwa danau tersebut adalah danau keramat dan memberikan kesuburan pada daerah sekitarnya, maka tak jarang sering diadakan upacara adat di danau tersebut dimana masyarakat memberikan persembahan hasil bumi kepada arwah di danau yang jika ditotal berukuran 1.051.000 tersebut.
Perubahan Alam, Kepercayaan Abadi
Gunung Kelimutu pernah meletus pada tahun 1886 dan meninggalkan tiga kawah berbentuk danau yang warna airnya dapat berubah-ubah secara tak terduga sesuai dengan kandungan mineral dan cuaca. Perubahan tak terduga warna air danau tersebut menjadikan misteri tersendiri yang belum mampu dipecahkan hingga sekarang. Patut diketahui, dahulu danau ini pernah berwarna merah, putih dan biru.
Bagai dua sisi mata uang yang tak mampu dipisahkan, perubahan alami berjalan harmonis dengan kepercayaan abadi masyarakat lokal membuat danau ajaib ini menjadi daya tarik sendiri bagi semua orang terkhusus bagi anda penggiat alam bebas dan penggemar pemandangan alam. FBN
Langganan:
Postingan (Atom)