Malam itu nampak seperti biasanya, beberapa manusia mencoba melawan hawa dingin dengan berendam di semacam danau kecil berisi air panas, manusia yang lain membawa kotak berisi bungkusan berwarna merah, cokelat, hitam, di tukarkan bungkusan tersebut dengan lembaran berwarna hijau, biru. Di sisi sebelah ujung beberapa berpasang-pasangan saling berhadapan. tak tau lah apa yang sedang mereka lakukan. Dan aku masih sama di tempat faforitku, hinggap di kayu lapuk sebuah gubug.
Bagi kalian yang mengenalku, pasti bingung dan bertanya-tanya, apa yang aku lakukan di batang pohon, berjam-jam, berhari-hari tanpa bergerak banyak. aku mendengarkan. Yaa, aku dan teman-temanku mendengarkan semua yang terjadi, kami selalu bertukar cerita. Mendengarkan cerita manusia yang lewat, tentang masalah-masalah mereka, tentang teman satu perjalanannya. Kadang aku berfikir apa yang mereka cari di rumahku ini. Sependengaran saya sih mencari kebebasan, katanya. Entahlah, karena kudengar, mereka suka berbohong.
Seperti malam ini, dengan jelas aku mendengarkan 4 manusia mendiskusikan perjalanan mereka selama beberapa hari kemarin. Mereka memulai pembicaraan dengan serius. Setiap orang diberi kesempatan bicara tentang masing-masing dari mereka, yang berbadan agak besar sangat bernafsu sekali membicarakan hal itu, yang agak kalem di sebelahnya ikut menimpali. Yang tinggi nampak malu-malu mengutarakannya, namun rasanya tak mampu ia menahan kata-katanya dan akhirnya keluar juga, sedang yang berambut panjang terlihat selalu berhati-hati dalam merangkai kata.
Dari pembicaran mereka, aku jadi ingat tadi siang, seorang kawan datang dan menceritakan bahwa di atas sana, ada enam manusia sedang kebingungan menentukan tujuannya, sebagian ingin terus naik ke atas, sebagian lagi tak bisa. Mereka dilema ingin mengatasnamakan apa perjalanan mereka itu, solidaritas kah? Ambisi kah? atau kondisional kah? Namun belum sempat ia menceritakan sepenuhnya, ia sudah dipanggil ibunya. Aku baru sadar ternyata mereka yang diceritakan kawanku telah berpisah dan keempatnya ada di bawah badanku.
Mereka melanjutkan pembicaraan dengan sangat serius, namun maaf, aku tak bisa menceritakan isi pembicaraan mereka kepadamu, ini rahasia di alam. Hanya aku dan mereka yang tau. Merekapun entah menyadari atau tidak pembicaraannya didengarkan. Namun aku pastikan diriku tersembunyi dan mereka tak mampu melihatku. Aku berfikir sejenak, begitu berbahayakah rumahku ini bagi sebuah persahabatan? Aku yakin mereka bukan orang yang baru kenal satu dua hari dan melakukan perjalanan ini, Mungkin bahkan lebih dari umurku.
Beginilah rumahku, banyak manusia yang datang untuk sekedar berwisata, namun banyak juga yang mencari makna hidup melalui sebuah perjalanan alam bebas. Mereka menyerahkan diri untuk diuji oleh alam, diuji kesetiakawanannya, diuji jiwa kepemimpinannya, diuji kerjasama satu sama lain dan yang paling penting manusia diuji ke takwaannya, karena rumahku adalah milik-Nya. Tak ada yang pasti di rumahku, semuanya dapat terjadi, konflik, damai, pertentangan ego dan hanya akal dan hati bersih yang mampu melewati ujian itu.
Aku terbangun dari tidur ku yang mungkin hanya sebentar. Untuk kesekian kalinya aku mendahului matahari. Aku melirik ke bawah, kosong. Aku terbang mencari kemana empat manusia ini pergi. Dari atas bukit aku bisa melihat mereka, berjalan menyusuri aspal tak tau kemana selanjutnya akan pergi. Aku tak melihat jarak diantara hati mereka, semuanya telah menyatu. Semoga kau percaya aku dapat melihat itu. Aku meluncur pulang ke tempat faforit ku sambil tersenyum lega, “Memang tak ada yang pasti di alam, namun aku yakin perjalanan itu pasti menguatkan mereka, bukan memisahkan, karena ini bukan masalah tujuan, ini tentang pencarian makna”.(FBN)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar