Selasa, 01 Desember 2009
Belajar Tentang Hidup Lewat Bersepeda
Seperti pada minggu, 22 November 2009. Di pagi yang cerah itu, Erlan menyempatkan diri bersepeda bersama sang anak tercinta. Mereka mengayuh sepeda jauh-jauh dari rumahnya di Lenteng Agung hingga Universitas Indonesia. Namun tak tampak raut lelah dimuka mereka, yang ada malah raut kegembiraan dapat bersepeda bersama-sama, setelah 6 hari disibukan dengan rutinitas masing-masing.
Setelah sekitar 20 menit mengayuh, sampai juga mereka dihutan UI, salah satu tempat favorit untuk bersepeda. Trek licin melengkung yang disediakan bagi pesepeda ditempat tersebut seakan menggoda Faris untuk mencobanya. Namun ia tak kuasa menahan rasa takutnya. Sang ayah lalu mencoba menguatkan mental sang anak untuk berani melibas jalur terjal tersebut, dengan harapan sang anak mampu melibas perkara-perkara sulit dalam hidupnya kelak.
Bak bunga mekar setelah ditetesi embun pagi, nyali bocah itu meningkat. Dengan dukungan dari ayahanda tercinta, tanpa ragu lagi ia menuruni trek licin tersebut dan berhasil sampai pada ujung jalur. Ekspresi bangga tak bisa ditutupi sang ayah melihat keberhasilan puteranya. Sama berharapnya ketika melihat keberhasilan puteranya dalam hidup kelak. Begitupun sang anak, bak menyabet medali emas dalam turnamen besar, ia girang bukan main setelah berhasil melewati jalur tersebut. Rasanya lengkap sudah suasana pagi itu.
Kepercayaan diri Faris meningkat, untuk kesekian kalinya ia berhasil dan mulai terbiasa melalui jalur itu. Namun brukk! Faris tidak memperhatikan tanah licin yang dilalui sehingga ia jatuh tersungkur tanah. Sepeda kesayangannya menimpa diatas tubuhnya yang kecil. Sang ayah dengan sigap datang untuk memberikan pertolongan. seketika raut muka Faris meringis kesakitan bercampur menahan tangis.
Sang ayah memeriksa tubuh faris sambil terus memberikan dukungan. Luka lecet dilutut dan lengan ditutupi dengan plester dukungan dari ayahanda, membuat Faris kembali melanjutkan bersepedanya bersama ayahanda yang siap memberikan yang terbaik bagi anaknya. sambil sesekali bercanda diselingi sisa-sisa sakit lukanya. Seperti kata orang bijak “yang terpenting dalam hdup ini adalah bukan saat kita jatuh, namun pada saat kita bangkit dari kejatuhan”. FBN
Sabtu, 07 November 2009
Bukan Generasi Palsu…
Sebelumnya, saya sering mendapatkan undangan atau teman-teman yang menyarankan saya untuk bergabung pada akun-akun dukung atau tolak sesuatu. Namun hati saya merasa terusik. Apakah segampang itu saya mengonfirmasi tanpa pengetahuan yang jelas terhadap kasus tersebut?
Hati saya mengganjal untuk mengkonfirmasi akun tersebut, sehingga saya lebih memilih mengabaikannya. Alasan saya tentu bukan karena apatis terhadap situasi nasional, namun lebih ke cara ambil bagian dalam parisipasi pokitik yang berbeda.
Jika kita kilas balik ke masa sebelumnya, banyak sejarah yang ditorehkan kaum muda lewat bentuk nyata perjuangan. Pemuda seluruh nusantara bergabung dan mengikrarkan sumpah pemuda, para pemuda yang mendirikan organisasi pertama untuk kaum pribumi demi melawan penjajah, yaitu Boedi Oetomo.
lalu 1998, dimana mahasiswa berbondong-bondong turun kejalan menuntut reformasi yang berakibat lengsernya orang nomor satu selama tiga puluh dua tahun. Hingga 2009, untuk menuntut keadilan, hanya dengan sekali klik konfirmasi untuk dukung atau tolak sesuatu di dunia maya (palsu).
Saya tidak berani mengatakan bahwa ini suatu kemajuan atau kemunduran kaum muda, yang jelas ada perubahan tren kualitas partisipasi politik. Namun jika dilihat dari sejarah, ada substansi yang memudar seiring menebalnya penjajahan dinegeri ini, yaitu semangat perjuangan nyata (bukan palsu) yang mengutamakan proses.
Saya kira keadilan atau apalah cita-cita masyarakat kita tidak akan tercapai hanya dengan mengkonfirmasi dukungan atau penolakan terhadap sesuatu di dunia maya tanpa pengetahuan yang cukup tentang kasus tersebut.
Tentunya tidak mau
Baca…Pikir…Lawan…!
Senin, 26 Oktober 2009
Canda tawa mengiringi bocah-bocah saling kejar, saling tangkap, tanpa sandal, tak peduli kaki panas menerjang kerikil jalan dan panas matahari sore membuat badan mereka yang tidak dibungkus baju menjadi penuh keringat, keringat kagembiraan tentunya, “biar kotor yang penting senang”, pikir mereka.
Dua kelompok bocah yang masing-masing terdiri dari jumlah yang sama berkumpul pada dua tiang terpisah untuk dijadikan benteng, setiap anggota kelompok menjaga benteng agar tidak tersentuh oleh pihak musuh. Setiap pemain wajib kejar-kejaran untuk menangkap anggota lawan agar penjaga benteng berkurang dan benteng berhasil direbut. Inilah gambaran permainan tradisional negeri ini bernama “benteng” atau sebagian orang biasa menyebutnya “bon”.
“Benteng” atau “bon” merupakan salah satu dari segudang permainan tradisional yang hidup dan berkembang di Indonesia. Permainan tradisional yang cukup terkenal lagi antara lain, galasin, tak kadal, nenek gerondong, gasing, kelereng, kuda tomprok dan masih banyak permainan tradisional yang tak kalah menariknya dan pernah menemani masa kecil kita dahulu.
Permainan tradisional tentu bukan permainan biasa, dalam permainan warisan nenek moyang Indonesia tersebut, anak-anak mendapatkan banyak pelajaran berharga berupa nilai-nilai kehidupan yang sangat berarti bagi perkembangan watak dan jiwa anak yang kuat. Nilai kerja keras, kerjasama, semangat kompetitif, sportifitas dan masih banyak lagi yang lainnya selain tentunya sehat secara jasmani. Selain itu permainan tradisional juga dilakukan di alam terbuka sehingga anak-anak belajar untuk berinteraksi dengan alam sekitar.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, jarang sekali sekarang kita temukan anak-anak bermain di lapangan dan jalan-jalan depan rumah untuk memainkan permainan sarat makna ini. Mereka labih memilih permainan-permainan “import” seperti play station dan game online. Sering sekali kita jumpai di tempat-tempat penyewaan play station dan game internet, bocah-bocah terpaku ke layar monitor seakan tak peduli pada sekitarnya.
Sungguh ironis memang. Bocah-bocah penerus bangsa yang harusnya dibangun dengan fondasi nilai-nilai positif, harus dihambat dengan budaya individualistis dan tidak peka terhadap lingkungan.
Pengaruh globalisasi memang punya andil besar terhadap lenyapnya permainan-permainan tradisional di lapangan-lapangan rumah Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Pergeseran nilai budaya menyebabkan kita kehilangan identitas budaya, tentunya ini berarti proses “pelupaan” terhadap kebudayaan Indonesia termasuk lewat permainan tradisional tengah terjadi.
pergeseran nilai-nilai yang dimaksud disini bahwa kita mulai menghilangkan nilai kontak sosial yang ada, anak-anak menjadi seorang yang indiviuliastis dan emosional serta kehilangan selera untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. dalam hal ini tidak bermaksud untuk menghilangkan segala bentuk pemaianan baru, akan tetapi perlunya ada sebuah bentuk upaya untuk memasyarakatkan kembali bentuk permaian tradisional, karena kita yakin bahwa dalam permaian tradisional tersebut akan selalu ada nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Sekarang tinggal kita melihat permasalahan ini secara menyeluruh, bahwa yang menjadi musuh kebudayaan lokal ini bukan kebudayaan asing, tapi pola pikir masyarakat Indonesialah yang harus diubah Agar tidak melupakan warisan nenek moyang yang penuh nilai berharga ini. Pertanyaannya adalah, mampukah kita untuk menghidupkan kembali warisan yang hampir punah ini agar bangsa kita bangkit menjadi bangsa yang besar? Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, permainan tradisional adalah salah satunya. (FBN)
Kalo Males Baca...Ditonton aja...!
Tentunya, rasa malas membaca yang meyerang saya dan beberapa kawan saya ini bukan bersifat sporadis dan insidental, artinya kondisi malas membaca pada saat-saat tertentu saja dan tidak terkait dengan latar belakang pribadi seseorang, namun akibat faktor-faktor yang saling berhubungan, antara lain pendidikan, pengalaman dan lingkungan sekitar. Selain itu, rasa malas membaca yang menjangkiti saya dan kawan saya ini merupakan potret kecil dari album besar budaya Indonesia yang malas membaca, tapi rajin sekali menonton..... kenapa ya??
Saya tak tau pasti kapan kondisi malas membaca ini menjadi budaya yang telah dipatenkan di Indonesia, namun yang jelas perkembangan media massa elektronik yang dibungkus dengan plastik cantik globalisasi menjadi salah satu penyebab timbulnya degradasi nilai dari rajin membaca ke rajin menonton. Saya jadi teringat kejadian dirumah saya dimana anak asisten rumah tangga, saya beri buku cerita bergambar kartun, namun buku itu tak dipegang lama, ia lebih memilih nonton tv acara kartun ketimbang baca buku padahal isinya sama-sama kartun. saya jadi bingung, apakah ini buah dari tiga setengah abad plus tiga setengah tahun plus tiga puluh dua tahun pembodohan yang terjadi pada bangsa kita ini?? Saya juga kurang tau pasti.
Budaya membaca yang nyaris punah ini tentu mencemaskan dalam jangka panjang. Jika dilihat dari sejarah bangsa-bangsa maju, tak ada satu massa pun yang dilewati dengan budaya baca-tulis. Bagi masyarakat Indonesia, anak-anak dan remaja khususnya, membaca adalah sesuatu hal yang membosankan, menjenuhkan dan menghabiskan energi, mereka lebih memilih kongkow-kongkow di café (bagi remaja) atau menonton kartun di TV (bagi anak-anak). Ini menunjukan bahwa masyarakat Indonesia tidak suka berfikir karena berfikir itu rumit dan menguras energi, perlu diingat bahwa membaca dan berfikir merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Mereka lebih suka hidup apa adanya tanpa berfikir keras, Yaa nggak neko-neko lah.....
Saya kira kita sebagai kaum muda punya PR besar yang harus segera diselesaikan, bagaimana menumbuhkan masyarakat yang cinta membaca (otomatis cinta berfikir) karena yang menjadi permasalahan adalah mampukah dengan sifat-sifat masyarakat kita yang malas berfikir ini menjawab harapan dan tantangan zaman globalisasi ini?? Tentu tidak tanpa budaya berfikir.....hehehehehehe
Bahasa Menunjukan Bangsa
Guyonan saya diatas bukan sembarang guyonan, tapi ini fenomena yang tengah terjadi di masyarakat kita, you know what? tentunya ya masalah penyakit sok-Inggris dalam percakapan bahasa Indonesia. Apakah ini wajar terjadi akibat masuknya kita dalam globalisasi? ataukah benar seperti yang dikatakan Bung Karno kita telah menjadi bangsa yang tidak berkepribadian dan tak berharkat? tanya saja pada rumput yang bergoyang...hehehehe
Berikut ini akan saya tampilkan beberapa contoh penggunaan bahasa Indonesia yang centang-perenang tersebut:
- Sri Mulyani : "Perkiraan inflasi year on year JULI '09 3,65%" (running teks Metro Tv 14/7 '09)
- SBY : "Ini bisa menimbulkan image yang keliru" (konferensi pers di Cikeas 14/7 '09)
- Lagu-lagu band dalam negeri yang sering menggabungkan bahasa Indonesia dan Inggris, tanpa struktur yang jelas, misalnya lagu St12 yang berlirik, "i'm sorry, ku tak akan love you lagi"
- Media-media massa yang memakai bahasa Inggris, padahal isinya tetap bahasa Indonesia seperti provoke, go girl, House, mom&kidd, Girl, dan banyak lagi
- Kebiasaan umum masyarakat kita dalam melafalkan secara benar DVD dilafal "di-vi-di", VCD dilafal "vi-si-di", TV dilafal "ti-vi", namun anehnya berbeda soal ketika melafalkan WC malah "we-se" bukan "dabelyu-si", DP(down payment) malah "de-pe" bukan "di-pi", WWF malah "we-we-ef" bukan "dabelyu-dabelyu-ef".
Sebenarnya saya bukan bermaksud masyarakat Indonesia tidak boleh ber-Inggris-Inggris-ria, namun saya melihat masyarakat kita hampir kehilangan identitas sebagai satu nusa satu bangsa satu bahasa, menjadi satu nusa satu bangsa two language akibat penggunaan bahasa Indonesia yang tidak keruan pemakaiannya.
Ironisnya yang sering sekali menghias tutur katanya dengan bahasa asing itu kaum-kaum yang menjadi panutan, kaum intelektual, elit politik, akademisi, bahkan presiden dan menjadi lengkap sudah ketika media massa mempertontonkan itu semua kepada masyarakat sehingga seolah-olah halal dan dibenarkan. tak jelas apa maunya, apakah supaya terlihat pintar? atau hanya sekedar unjuk kebolehan? jangan sampai arwah para pencetus sumpah pemuda bangkit dari kubur dan mendatangi kita satu per satu agar menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar...hihhh serem kan?
Salah satu cara ampuh yang pernah dilakukan para pendahulu adalah menyerap kata-kata asing kedalam bahasa Indonesia dengan "mematikan" ejaan aslinya menjadi ejaan yang sesuai dengan lafal melayu. perlu diketahui bahwa kata-kata bahasa bahasa Indonesia bernuansa lama seperti terup, dokar, buset, peri, musti, hore, justru berasal dari kata-kata bahasa Ingris troop, dog car, bull shit, fairy, musti, hurrah, just true yang telah melalui proses "pematian" ejaan. saya hanya ingin mengingatkan bahwa dulu kita punya keberanian itu, tapi kenapa sekarang tidak ya?
Saya kira fenomena budaya bahasa ini bukan hanya urusan sarjana bahasa saja, melainkan urusan kita semua sebagai penerus bangsa. oleh sebab itu saya ingin mengajak kita semua untuk menghargai warisan yang hampir punah ini agar kita menjadi bangsa yang berkepribadian, karena bukankah bahasa menunjukan bangsa?
hehehehe kepanjangan ga sih nih tulisan??...gpp sekali-sekali....
baca...pikir...lawan...Sel
Emas Berkubang Dalam Lumpur
Saya kira inilah yang membuat masalah ini terus berlanjut, yaitu menganggap semua wajar terjadi karena sudah terbiasa. berangkat dari "keterbiasaan" ini lah saya jadi sedikit gelisah. gelisah karena menurut saya anak kecil yang mengais sampah di kolong peron itu bukan lah sesuatu yang biasa terjadi. ini adalah masalah kompleks dan sistematis yang harus segera diselesaikan oleh kita semua, termasuk presiden terpilih nanti (mungkin ga ya??).
Banyak sekali sebenanya masalah yang timbul dan mengakar pada dunia anak Indonesia, ironisnya, kita masih membiarkan hal tersebut terjadi, mulai dari kekerasan terhadap anak, pendidikan berkualitas yang hanya berpihak pada yang mampu, lingkungan yang tidak mendukung perkambangan anak yang baik, masalah anak yang dieksploitasi menjadi pekerja dan masih banyak lagi masalah yang lainnya. pada tahun 2009, ada sekitar 600 ribu anak jalanan di Jabodetabek dan bertambah setiap tahunnya. sumber lain menyebutkan jumlah kasus kekerasan terhadap anak meningkat menjadi 1.891 kasus tahun 2009. apakah kita masih menganggap hal ini sebagai hal yang biasa?
Anak merupakan salah satu manifestasi Indonesia yang harus ditumbuh kembangkan menjadi penyelamat bangsa dari keterpurukan, bayangkan bagaimana Indonesia lima puluh tahun mendatang jika sekarang 40% dari anak Indonesia putus sekolah? seorang bijak pernah berkata masa depan suatu bangsa sangat ditentukan oleh seberapa besar perhatian terhadap anak. ironis sekali ketika ada anak Indonesia yang baru saja memenangi kontes matematika internasional, namun disaat yang sama ada anak yang mungkin dengan potensi yang sama sedang mengais sampah di pinggir jalan.
Pada pembukaan pasal 23 UUD 1945 jelas disebutkan bahwa "Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia", namun anggaran 20% terhadap dunia pendidikan saja masih sering turun-naik tak tentu. menjelang pemilu, anggaran-anggaran strategis langsung dinaikan, "yaa lumayan buat nambah nilai plus waktu kampanye"...huhh kalau yang itu, wajar lahh hehehehe
Saya kira di Hari Anak Nasional ini bukan sekedar peringatan seremonial biasa saja, namun bagaimana kita menggugat penguasa untuk memikirkan nasib 70juta anak miskin di segala penjuru Indonesia yang tidak mendapat tempat dalam nampan kesejahteraan. bayangkan sudah berapa puluh hari anak nasional yang dilewatkan begitu saja oleh kita sebagai sesuatu yang wajar dan biasa terjadi, ini harus dihentikan..!! saya mengajak kita semua untuk berhenti terbiasa dengan kemiskinan bangsa ini dan melakukan dengan masing-masing cara kita agar anak-anak Indonesia keluar dari lumpur kemiskinan terstruktur ini. SELAMAT HARI ANAK NASIONAL....
baca...pikir...LAWAN...!!
Kekerasan Bikin Nggak Kerasan
Saya tertarik membeli koran yang satu ini bukan karena gambar seronok di headline-nya lho, (meskipun itu salh satunya..hehehehe) tapi karena penasaran, apa sih isinya?? mau tau isinya?? nih, saya kutip beberapa yang menggelitik hati saya untuk kita perbincangkan.
- "Sepupu dipukulin ampe mati, mau kawin kurang modal, minta motor nggak dikasih"
- "Gara-gara bales sms nyasar, kemaluan cewek robek 2cm"
- "Dukun bisa stress juga gantung diri, mati. penyebabnya pasien dikit, duitnya jadi nggak banyak"
- "Pegawai KPU gebukin tetangga. gara-gara pas naek sepeda motor disalip ama tetangga, si pegawai nggak terima deh"
- dan sederet berita kekerasan lainnya yang tak mungkin saya kutip semua.
ADA APA DENGAN MASYARAKAT KITA??
Ingatan saya saat itu langsung mensasar pada perisriwa-peristiwa kekerasan yang pernah terjadi di tanah air kita. Peledakan bom di hotel-hotel dan pusat hiburan, pembakaran rumah ibadah di sejumlah daerah, penembakan polisi terhadap petani, tawuran antar mahasiswa, seorang anak yang tega dilindas kereta api oleh bapaknya, penembakan di Papua dan segudang peristiwa kekerasan yang selalu menjadi kegelisahan kita sebagai anak bangsa.
Kekerasan punya definisi yang luas, namun secara umum, kekerasan merupakan situasi dimana selalu ada pelaku kekerasan dan korban kekerasan. kekerasan identik pada tindakan destruktif seperti pengerusakan, pemukulan, pemerkosaan dan sejenisnya yang disebut kekerasan fisik. ada juga kekerasan psikologis dimana pelaku melakukan tekanan terhadap kondisi psikis korban sehingga menimbulkan depresi dan berakibat pada berubahnya perilaku individu tersebut.
Dari kasus-kasus kekerasan diatas, yang membuat ironis adalah kekerasan dipicu oleh hal-hal yang sepele. misalnya gara-gara uang seribu perak saja, dua orang kawan bisa saling bacok. jika dilihat secara cermat, fenomena ini berkaitan erat dengan ketimpangan sosial dan ekonomi di Indonesia.
hancurnya ekonomi berakibat tidak bisa dipenuhinya kebutuhan rakyat kecil dan hal ini menumpuk dan terakumulasi dalam alam bawah sadar mereka bertahun-tahun sehingga memuncak dan meletus ketika terbentur dengan kondisi-kondisi tertentu. hasilnya? ya itu tadi yang kita baca di koran-koran. kekerasan yang terjadi di masyarakat merupakan potret masyarakat Indonesia yang sedang "sakit".
Perlu diketahui, grafik angka kekerasan di masyarakat naik signifikan sejak reformasi, sempat turun sekitar tahun 2003 dan perlahan namun pasti naik kembali pada tahun-tahun belakangan hingga sekarang. Dari fenomena ini, menunjukan bahwa pemerintah belum serius menangani masalah kesejahteraan rakyat Indonesia, masyarakat yang sejahtera memiliki peluang kecil terhadap tindakan kekerasan yang mulai mengakar seiring pula dengan mengakarnya kemiskinan di Indonesia.
Saya kira ini PR bagi kita semua untuk memutus sendiri budaya kekerasan yang marak terjadi. namun, apalah artinya gerakan moral masyarakat jika tidak diimbangi dengan kebijakan pemerintah?? kita semua wajib menggugat pemerintah terpilih untuk menyambut niat baik kita sebagai kaum muda untuk menyelesaikan permasalahan ini. mari kita lawan dengan lembut kekerasan yang terjadi di tanah air. tentunya dengan cara kita masing-masing.
baca...pikir...LAWAN!!
Tak'kan ada lagi
Nonton berita, huhh itu-itu saja yang diberitakan, malah seakan2 berita tersebut dibesar2kan agar laku dipasaran, nonton acara kuis pun sangat tak mendidik dan hanya orientasi pada bagi2 uang, bukan pada aspek pendidikan...
Huhh apalagi nonton reality show yang penuh dengan sandiwara dan lagi2 berorientasi pada rating, bukan pendidikan...
Masih lekat jelas dalam ingatan kita, dua sosok yang pernah menghiasi jagad seni dan hiburan Indonesia. siapa yang tak kenal dengan Mbah Surip dan W.S Rendra?
Dua pelaku seni dan sastra yang beberapa waktu lalu dipanggil Tuhan Yang Maha Esa itu merupakan sosok yang sangat fenomenal dengan watak dan karakter yang sangat mengena dihati masyarakat luas.
Urip Aryanto atau yang akrab dipanggil Mbah Surip, memiliki karakter yang sangat menonjol, yaitu perjuangan hidupnya dan kesederhanaan.
Sedangkan Si Burung Merak, W.S Rendra yang konsisten terhadap perlawanan terhadap penguasa yang sewenang2.
Ya dua hal yang dapat kita rangkum dari dua sosok yang sangat menginspirasikan hidup kita, Kesederhanaan dan nilai perjuangan...kesederhanaan
Dua hal yang tidak pernah kita lihat lagi dimedia massa Indonesia akibat dominasi budaya populer sebagai konsekuensi logis penerapan sistem kapitalistis pada industri media massa.hmmm ribet dah ahh...!
Yang jelas masyarakat kita harus dididik dengan tontonan yang sehat dan bermanfaat, mau jadi apa jika industri media massa menayangkan acara "yang kita inginkan, bukan yang kita butuhkan" seperti nilai2 hidup kesederhanaan dan perjuangan tadi...hmm sudah dijajah secara ekonomi, masa harus dijajah jugai pola pikirnya...?
huhh jadi kangen liat Mbah Surip manggung dengan apa adanya, sangat sederhana, berbeda dengan selebritis glamor kebanyakan...rindu pada sajak2 Burung Merak yang membangkitkan merahnya jiwa perubahan kita semua...
mau tak mau kita tidak boleh larut pada "keterasingan" ini, dan memulai hidup dengan dua hal yang telah di"titip" kan Tuhan kepada Mbah Surip dan W.S Rendra....Kesederhanaan dan perjuangn...!
Baca...Pikir...Lawan...!
Rumah Idaman
akankah besar...atau kecil...jadi pujaan...atau terabaikan...
inilah jawabnya..."
Kira-kira begitulah sepenggal lirik lagu pada iklan produk perekat bangunan di televisi.
sebuah rumah atau bangunan apapun pasti dibuat dengan tujuan penekanan pada fungsi, yaitu untuk melindungi penghuni dari panasnya matahari dan dinginnya hujan.
oleh sebab itu rumah yang ideal harus dibangun diatas struktur tanah yang rata dan padat agar tak mudah ambruk, fondasi yang kokoh serta atap yang kuat agar penghuninya dapat menjalankan aktifitasnya dengan damai.
saya kira filosofi tentang rumah diatas dapat menjadi landasan bagi situasi hubungan antar personal dalam suatu kelompok.
layaknya membangun sebuah rumah, hubungan antar personal dalam kelompok pun harus didasari oleh nilai-nilai kehidupan seperti kasih sayang dan rasa saling membutuhkan yang padat dan kuat seperti tanah untuk membangun rumah, diperkuat oleh fondasi-fondasi kokoh nilai-nilai kesamaan, toleransi dan dilindungi oleh semangat persatuan dan kesatuan agar "rumah bersama" ini dapat didiami dengan damai oleh penghuninya.
mungkin masing-masing kita pernah punya pengalaman berkomunikasi antar personal dalam kelompok, entah keluarga, organisasi, kawan-kawan satu tongkrongan, genk, atau apalah sejenisnya.
seringkali kita mengabaikan komunikasi kepada rekan, sahabat, atau anggota kelompok lain sehingga membuat seseorang sering merasa tidak nyaman berada ditengah-tengah kelompok dan hal ini tentunya menyebabkan ketidakharmonisan dalam "rumah bersama" tadi.
jadi, mau besar atau kecil, jadi pujaan atau terabaikan atau mungkinkah sejuk ataupun hangat, itu semua dijawab dengan apa yang kita lakukan dalam kelompok tersebut. sedang membangun atau meruntuhkan?
Gemaku...Kekuatanku
Gema atau gaung adalah suara yang memantul akibat terbentur benda padat, sehingga efek yang terdengar seperti suara yang berulang-ulang tapi kekuatannya semakin melemah. biasa terjadi di ruangan kosong atau wilayah bergunung-gunung.
Fenomena gema/ gaung ini bukan sekedar fenomena fisika belaka, namun dapat dikaitkan dengan peristiwa yang terjadi dalam masyarakat. yang saya maksud adalah peristiwa pelantikan presiden Indonesia terbaru, Susilo Bambang Yudhoyono yang direspon negatif oleh para demonstran.
Selasa, 20 oktober 2009, ribuan demonstran dari berbagai elemen seperti mahasiswa, petani, nelayan, buruh dan lainnya mewarnai pelantikan SBY digedung DPR/MPR dengan berbagai reaksi penolakan dan tuntutan.
Massa memadati Jl. Gatot Soebroto depan gedung rakyat itu mulai pukul 09.00 WIB. mereka membawa spanduk dan atribut berisi tuntutan penghentian agenda-agenda politik ekonomi SBY yang tidak pro-rakyat(Neoliberal).
POLRI mengerahkan sedikitnya 240 ribu personel untuk mengamankan acara pelantikan yang seharusnya terbuka untuk umum itu. para demonstran tak luput dari penjagaan berlebihan dari aparat. beberapa akses jalan yang melewati gedung DPR/ MPR seperti persimpangan Semanggi dan Tapal Senayan juga dialihkan.
Yaaahh itu lahh wujud demokrasi di Indonesia saat ini. Teriakan-teriakan dan aspirasi rakyat tak cukup kuat menembus mahalnya pagar besi yang kokoh dan tembok angkuh gedung yang "katanya" milik rakyat itu. tuntutan rakyat tak sampai dikuping mereka didalam sana yang dilantik. suara rakyat hanya terdengar oleh Polisi, pedagang makanan, pemungut sampah yang notabene senasib!. teriakan kami hanya "menggema".
Saya tidak berharap banyak kepada mereka yang telah dilantik dan ditelfon (Baca: menteri) agar melakukan keajaiban memperbaiki kondisi bangsa agar bangkit dari keterpurukan. Bagaimana bisa berharap, tangisan kami saja tidak dilirik sekalipun.
Yang saya harapkan dan tentunya jadi harapan bersama ialah ketika suara tuntutan, teriakan dan tangis kami memantul dari "tembok dan pagar rumah kami sendiri", kekuatannya bukan semakin melemah seperti teori gaung/ gema diawal.melainkan semakin menguatkan kita untuk tetap bersatu, berjuang demi kesejahteraan bersama. tak lebih.
Presiden Indonesia adalah rakyat sendiri...
Baca...Pikir...Lawan...!
Kabinet Harap-Harap Cemas
Setelah dilantik, secercah harapan muncul mengusir ketidakpastian siapa-siapa saja yang mengisi jabatan "pembantu rakyat" itu. Namun disisi lain, kontroversi pun mencuat dengan wacana komposisi menteri banyak yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan dan pengalaman mereka.
Harapan rakyat pun berubah menjadi kecemasan, takut apakah mereka mampu memberikan solusi terhadap tiga permasalahan dasar bangsa ini (kemiskinan, kekerasan dan reformasi birokrasi).
Sedangkan di dalam gedung parlemen, sekitar 60 persen merupakan koalisi besar SBY. Hal ini menambah kecemasan banyak pihak terhadap kekuatan baru SBY yang akan sulit dikontrol nantinya. Cukup sudah pengalaman 32 tahun Indonesia mengalami depolitisasi dan kemunduran demokrasi.
Kecemasan ini tentunya jangan dipelihara terlalu larut oleh kita semua. Kecemasan ini harus dimodifikasi menjadi keberanian menghadapi tantangan serius ini. Termasuk media yang berfungsi sebagai kontrol pemerintah.
Semoga kinerja menteri dan anggota parlemen yang baru dapat menjawab harapan sekaligus kecemasan rakyat Indonesia dan segera menuntaskan program-program pro-rakyat.





