Warisan yang hampir punah
Canda tawa mengiringi bocah-bocah saling kejar, saling tangkap, tanpa sandal, tak peduli kaki panas menerjang kerikil jalan dan panas matahari sore membuat badan mereka yang tidak dibungkus baju menjadi penuh keringat, keringat kagembiraan tentunya, “biar kotor yang penting senang”, pikir mereka.
Dua kelompok bocah yang masing-masing terdiri dari jumlah yang sama berkumpul pada dua tiang terpisah untuk dijadikan benteng, setiap anggota kelompok menjaga benteng agar tidak tersentuh oleh pihak musuh. Setiap pemain wajib kejar-kejaran untuk menangkap anggota lawan agar penjaga benteng berkurang dan benteng berhasil direbut. Inilah gambaran permainan tradisional negeri ini bernama “benteng” atau sebagian orang biasa menyebutnya “bon”.
“Benteng” atau “bon” merupakan salah satu dari segudang permainan tradisional yang hidup dan berkembang di Indonesia. Permainan tradisional yang cukup terkenal lagi antara lain, galasin, tak kadal, nenek gerondong, gasing, kelereng, kuda tomprok dan masih banyak permainan tradisional yang tak kalah menariknya dan pernah menemani masa kecil kita dahulu.
Permainan tradisional tentu bukan permainan biasa, dalam permainan warisan nenek moyang Indonesia tersebut, anak-anak mendapatkan banyak pelajaran berharga berupa nilai-nilai kehidupan yang sangat berarti bagi perkembangan watak dan jiwa anak yang kuat. Nilai kerja keras, kerjasama, semangat kompetitif, sportifitas dan masih banyak lagi yang lainnya selain tentunya sehat secara jasmani. Selain itu permainan tradisional juga dilakukan di alam terbuka sehingga anak-anak belajar untuk berinteraksi dengan alam sekitar.
Namun seiring dengan berjalannya waktu, jarang sekali sekarang kita temukan anak-anak bermain di lapangan dan jalan-jalan depan rumah untuk memainkan permainan sarat makna ini. Mereka labih memilih permainan-permainan “import” seperti play station dan game online. Sering sekali kita jumpai di tempat-tempat penyewaan play station dan game internet, bocah-bocah terpaku ke layar monitor seakan tak peduli pada sekitarnya.
Sungguh ironis memang. Bocah-bocah penerus bangsa yang harusnya dibangun dengan fondasi nilai-nilai positif, harus dihambat dengan budaya individualistis dan tidak peka terhadap lingkungan.
Pengaruh globalisasi memang punya andil besar terhadap lenyapnya permainan-permainan tradisional di lapangan-lapangan rumah Indonesia, khususnya di kota-kota besar. Pergeseran nilai budaya menyebabkan kita kehilangan identitas budaya, tentunya ini berarti proses “pelupaan” terhadap kebudayaan Indonesia termasuk lewat permainan tradisional tengah terjadi.
pergeseran nilai-nilai yang dimaksud disini bahwa kita mulai menghilangkan nilai kontak sosial yang ada, anak-anak menjadi seorang yang indiviuliastis dan emosional serta kehilangan selera untuk bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. dalam hal ini tidak bermaksud untuk menghilangkan segala bentuk pemaianan baru, akan tetapi perlunya ada sebuah bentuk upaya untuk memasyarakatkan kembali bentuk permaian tradisional, karena kita yakin bahwa dalam permaian tradisional tersebut akan selalu ada nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya.
Sekarang tinggal kita melihat permasalahan ini secara menyeluruh, bahwa yang menjadi musuh kebudayaan lokal ini bukan kebudayaan asing, tapi pola pikir masyarakat Indonesialah yang harus diubah Agar tidak melupakan warisan nenek moyang yang penuh nilai berharga ini. Pertanyaannya adalah, mampukah kita untuk menghidupkan kembali warisan yang hampir punah ini agar bangsa kita bangkit menjadi bangsa yang besar? Karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, permainan tradisional adalah salah satunya. (FBN)
Senin, 26 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar