Senin, 26 Oktober 2009

Kalo Males Baca...Ditonton aja...!

Kamis, 2 Juli 2009 kemarin, saya membuka Facebook sekitar pukul dua dini hari, dalam bagian pemberitahuan, saya mendapati ada empat orang teman saya menandai catatan kepada saya, tentunya selain pemberitahuan yang lain seperti “anda dan .....sudah berteman sekarang”, “.....mengomentari status anda” dan beberapa pemberitahuan lainnya. “aduh, banyak banget si yang harus gua baca.....males nih gua”, pikir saya saat itu, meskipun pada akhirnya saya buka, baca dan komentar juga. Uniknya rasa malas membaca ini bukan hanya menyerang saya saja, tapi beberapa kawan saya yang mengaku kalau dirinya juga malas membaca, padahal membaca kan sangat penting, apalagi untuk membalas pesan dinding-pesan dinding dalam facebook.....betul ga?? Hehehe.....

Tentunya, rasa malas membaca yang meyerang saya dan beberapa kawan saya ini bukan bersifat sporadis dan insidental, artinya kondisi malas membaca pada saat-saat tertentu saja dan tidak terkait dengan latar belakang pribadi seseorang, namun akibat faktor-faktor yang saling berhubungan, antara lain pendidikan, pengalaman dan lingkungan sekitar. Selain itu, rasa malas membaca yang menjangkiti saya dan kawan saya ini merupakan potret kecil dari album besar budaya Indonesia yang malas membaca, tapi rajin sekali menonton..... kenapa ya??

Saya tak tau pasti kapan kondisi malas membaca ini menjadi budaya yang telah dipatenkan di Indonesia, namun yang jelas perkembangan media massa elektronik yang dibungkus dengan plastik cantik globalisasi menjadi salah satu penyebab timbulnya degradasi nilai dari rajin membaca ke rajin menonton. Saya jadi teringat kejadian dirumah saya dimana anak asisten rumah tangga, saya beri buku cerita bergambar kartun, namun buku itu tak dipegang lama, ia lebih memilih nonton tv acara kartun ketimbang baca buku padahal isinya sama-sama kartun. saya jadi bingung, apakah ini buah dari tiga setengah abad plus tiga setengah tahun plus tiga puluh dua tahun pembodohan yang terjadi pada bangsa kita ini?? Saya juga kurang tau pasti.

Budaya membaca yang nyaris punah ini tentu mencemaskan dalam jangka panjang. Jika dilihat dari sejarah bangsa-bangsa maju, tak ada satu massa pun yang dilewati dengan budaya baca-tulis. Bagi masyarakat Indonesia, anak-anak dan remaja khususnya, membaca adalah sesuatu hal yang membosankan, menjenuhkan dan menghabiskan energi, mereka lebih memilih kongkow-kongkow di café (bagi remaja) atau menonton kartun di TV (bagi anak-anak). Ini menunjukan bahwa masyarakat Indonesia tidak suka berfikir karena berfikir itu rumit dan menguras energi, perlu diingat bahwa membaca dan berfikir merupakan dua hal yang tak terpisahkan. Mereka lebih suka hidup apa adanya tanpa berfikir keras, Yaa nggak neko-neko lah.....

Saya kira kita sebagai kaum muda punya PR besar yang harus segera diselesaikan, bagaimana menumbuhkan masyarakat yang cinta membaca (otomatis cinta berfikir) karena yang menjadi permasalahan adalah mampukah dengan sifat-sifat masyarakat kita yang malas berfikir ini menjawab harapan dan tantangan zaman globalisasi ini?? Tentu tidak tanpa budaya berfikir.....hehehehehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar