Senin, 26 Oktober 2009

Kekerasan Bikin Nggak Kerasan

Selasa, 28 Juli 2009 kemarin seperti biasa, pagi-pagi saya mengantar bapak berangkat kerja, setelah itu saya mampir di tukang koran, saya bingung mau baca koran yang mana yaa, akhirnya bukan KOMPAS, bukan MI, bukan SINDO, bukan KORAN TEMPO, namun pilihan saya jatuhkan pada koran yang sering dianggap remeh oleh kebanyakan orang, Lampu Hijau!

Saya tertarik membeli koran yang satu ini bukan karena gambar seronok di headline-nya lho, (meskipun itu salh satunya..hehehehe) tapi karena penasaran, apa sih isinya?? mau tau isinya?? nih, saya kutip beberapa yang menggelitik hati saya untuk kita perbincangkan.

- "Sepupu dipukulin ampe mati, mau kawin kurang modal, minta motor nggak dikasih"

- "Gara-gara bales sms nyasar, kemaluan cewek robek 2cm"

- "Dukun bisa stress juga gantung diri, mati. penyebabnya pasien dikit, duitnya jadi nggak banyak"

- "Pegawai KPU gebukin tetangga. gara-gara pas naek sepeda motor disalip ama tetangga, si pegawai nggak terima deh"

- dan sederet berita kekerasan lainnya yang tak mungkin saya kutip semua.

ADA APA DENGAN MASYARAKAT KITA??

Ingatan saya saat itu langsung mensasar pada perisriwa-peristiwa kekerasan yang pernah terjadi di tanah air kita. Peledakan bom di hotel-hotel dan pusat hiburan, pembakaran rumah ibadah di sejumlah daerah, penembakan polisi terhadap petani, tawuran antar mahasiswa, seorang anak yang tega dilindas kereta api oleh bapaknya, penembakan di Papua dan segudang peristiwa kekerasan yang selalu menjadi kegelisahan kita sebagai anak bangsa.

Kekerasan punya definisi yang luas, namun secara umum, kekerasan merupakan situasi dimana selalu ada pelaku kekerasan dan korban kekerasan. kekerasan identik pada tindakan destruktif seperti pengerusakan, pemukulan, pemerkosaan dan sejenisnya yang disebut kekerasan fisik. ada juga kekerasan psikologis dimana pelaku melakukan tekanan terhadap kondisi psikis korban sehingga menimbulkan depresi dan berakibat pada berubahnya perilaku individu tersebut.

Dari kasus-kasus kekerasan diatas, yang membuat ironis adalah kekerasan dipicu oleh hal-hal yang sepele. misalnya gara-gara uang seribu perak saja, dua orang kawan bisa saling bacok. jika dilihat secara cermat, fenomena ini berkaitan erat dengan ketimpangan sosial dan ekonomi di Indonesia.

hancurnya ekonomi berakibat tidak bisa dipenuhinya kebutuhan rakyat kecil dan hal ini menumpuk dan terakumulasi dalam alam bawah sadar mereka bertahun-tahun sehingga memuncak dan meletus ketika terbentur dengan kondisi-kondisi tertentu. hasilnya? ya itu tadi yang kita baca di koran-koran. kekerasan yang terjadi di masyarakat merupakan potret masyarakat Indonesia yang sedang "sakit".

Perlu diketahui, grafik angka kekerasan di masyarakat naik signifikan sejak reformasi, sempat turun sekitar tahun 2003 dan perlahan namun pasti naik kembali pada tahun-tahun belakangan hingga sekarang. Dari fenomena ini, menunjukan bahwa pemerintah belum serius menangani masalah kesejahteraan rakyat Indonesia, masyarakat yang sejahtera memiliki peluang kecil terhadap tindakan kekerasan yang mulai mengakar seiring pula dengan mengakarnya kemiskinan di Indonesia.

Saya kira ini PR bagi kita semua untuk memutus sendiri budaya kekerasan yang marak terjadi. namun, apalah artinya gerakan moral masyarakat jika tidak diimbangi dengan kebijakan pemerintah?? kita semua wajib menggugat pemerintah terpilih untuk menyambut niat baik kita sebagai kaum muda untuk menyelesaikan permasalahan ini. mari kita lawan dengan lembut kekerasan yang terjadi di tanah air. tentunya dengan cara kita masing-masing.

baca...pikir...LAWAN!!

1 komentar: