Senin, 26 Oktober 2009

Bahasa Menunjukan Bangsa

Ohh, my god...finally selesai juga nulis notes ini, maklum kemarin habis mengalami bad day, jadi baru sekarang sempet di copy paste di facebook saya ini ...hehehehe pastinya tidak ada yang aneh kan dari kata-kata pembuka saya barusan? kan sekarang zaman globalisasi, jadi semakin global yaa semakin keren donk... betul nggak? saya jadi teringat suatu kali saya pernah dikirimi pesan singkat dalam ponsel yang berisi "sakses ya buat UAS terakhir besok..!". saya langsung tergelitik melihat pesan tersebut , untuk mengeja "sukses" dalam bahasa Indonesia saja tidak jelas apakah ini bahasa Indonesia atau bahasa Inggris. Setau saya "sukses" dalam bahasa Inggris adalah "success" yang memang dibacanya "sakses"...hahahaha aja-aja ada dahh di zaman globalisasi ini...

Guyonan saya diatas bukan sembarang guyonan, tapi ini fenomena yang tengah terjadi di masyarakat kita, you know what? tentunya ya masalah penyakit sok-Inggris dalam percakapan bahasa Indonesia. Apakah ini wajar terjadi akibat masuknya kita dalam globalisasi? ataukah benar seperti yang dikatakan Bung Karno kita telah menjadi bangsa yang tidak berkepribadian dan tak berharkat? tanya saja pada rumput yang bergoyang...hehehehe

Berikut ini akan saya tampilkan beberapa contoh penggunaan bahasa Indonesia yang centang-perenang tersebut:

- Sri Mulyani : "Perkiraan inflasi year on year JULI '09 3,65%" (running teks Metro Tv 14/7 '09)

- SBY : "Ini bisa menimbulkan image yang keliru" (konferensi pers di Cikeas 14/7 '09)

- Lagu-lagu band dalam negeri yang sering menggabungkan bahasa Indonesia dan Inggris, tanpa struktur yang jelas, misalnya lagu St12 yang berlirik, "i'm sorry, ku tak akan love you lagi"

- Media-media massa yang memakai bahasa Inggris, padahal isinya tetap bahasa Indonesia seperti provoke, go girl, House, mom&kidd, Girl, dan banyak lagi

- Kebiasaan umum masyarakat kita dalam melafalkan secara benar DVD dilafal "di-vi-di", VCD dilafal "vi-si-di", TV dilafal "ti-vi", namun anehnya berbeda soal ketika melafalkan WC malah "we-se" bukan "dabelyu-si", DP(down payment) malah "de-pe" bukan "di-pi", WWF malah "we-we-ef" bukan "dabelyu-dabelyu-ef".

Sebenarnya saya bukan bermaksud masyarakat Indonesia tidak boleh ber-Inggris-Inggris-ria, namun saya melihat masyarakat kita hampir kehilangan identitas sebagai satu nusa satu bangsa satu bahasa, menjadi satu nusa satu bangsa two language akibat penggunaan bahasa Indonesia yang tidak keruan pemakaiannya.

Ironisnya yang sering sekali menghias tutur katanya dengan bahasa asing itu kaum-kaum yang menjadi panutan, kaum intelektual, elit politik, akademisi, bahkan presiden dan menjadi lengkap sudah ketika media massa mempertontonkan itu semua kepada masyarakat sehingga seolah-olah halal dan dibenarkan. tak jelas apa maunya, apakah supaya terlihat pintar? atau hanya sekedar unjuk kebolehan? jangan sampai arwah para pencetus sumpah pemuda bangkit dari kubur dan mendatangi kita satu per satu agar menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar...hihhh serem kan?

Salah satu cara ampuh yang pernah dilakukan para pendahulu adalah menyerap kata-kata asing kedalam bahasa Indonesia dengan "mematikan" ejaan aslinya menjadi ejaan yang sesuai dengan lafal melayu. perlu diketahui bahwa kata-kata bahasa bahasa Indonesia bernuansa lama seperti terup, dokar, buset, peri, musti, hore, justru berasal dari kata-kata bahasa Ingris troop, dog car, bull shit, fairy, musti, hurrah, just true yang telah melalui proses "pematian" ejaan. saya hanya ingin mengingatkan bahwa dulu kita punya keberanian itu, tapi kenapa sekarang tidak ya?

Saya kira fenomena budaya bahasa ini bukan hanya urusan sarjana bahasa saja, melainkan urusan kita semua sebagai penerus bangsa. oleh sebab itu saya ingin mengajak kita semua untuk menghargai warisan yang hampir punah ini agar kita menjadi bangsa yang berkepribadian, karena bukankah bahasa menunjukan bangsa?


hehehehe kepanjangan ga sih nih tulisan??...gpp sekali-sekali....
baca...pikir...lawan...Sel
amat Menikmati...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar