"Siapakah Aku?" Mataku tertuju pada kalimat yang tertera pada cover buku di teras sebuah toko buku kecil bilangan Depok. terselip diantara puluhan buku lain, bertumpuk, berserak tak beraturan siap dibeli. "pertanyaan macam apa itu?", pikirku.
Demi memenuhi rasa penasaran, ku sentuh ujungya yang agak kusam dan kutarik keluar. sekian detik ku bolak-balik halaman demi halaman, kubaca cepat untuk sekedar mengetahui sebenarnya buku apa ini?
"huhh ternyata buku filsafat". sebenarnya aku kurang tertarik pada buku-buku "berat" macam ini, namun aku penasaran pada judul pertama yang kubaca, "siapakah aku?". rasa penasaran ini membimbing tangan ku mempertahankan buku untuk terus kubaca walau setengah hati.
Hampir 20 menit aku asik membaca buku tersebut, Sampai aku sadari, penjaga toko buku memandangiku dengan pandangan aneh, "ya, aku tau artinya". dengan berat hati kuputuskan menaruh buku tersebut dan beranjak pergi, tentu tak lupa mengucapkan terima kasih meskipun dibalas dengan tatapan yang sama. "biarlah", pikirku.
Langkahku berlanjut menapaki lorong kecil yang ramai, masih dibilangan Depok. sesekali bahuku meliuk-liuk seperti penari pementasan ballet, menghindar dari mahasiswa/i yang berhenti untuk membeli buku atau keperluan lainnya. entah mengapa riuhnya suasana lorong yang bisa disebut "pasar mahasiswa" itu tak membuat kepalaku berfikir seperti biasa, bebas.
Seisi kepalaku masih fokus tertinggal di buku tebal yang kubaca di toko barusan. berapa halaman yang sempat kulahap tadi belum bisa memenuhi kegairahanku menemukan jawaban tersebut, "Siapakah Aku?"
Pertanyaan tersebut seketika membawa alam pikiranku ke masa lampau, meraba potongan peristiwa masa kecilku yang tersisa didasar tumpukan memori, menjelajahi masa akhil balik penuh warna, hingga menembus periode beberapa tahun belakang yang baru ku lewati dengan penuh pertentangan. Begitupun siang malamku selanjutnya, bergulat dengan pertanyaan yang terus muncul seiring ku menemukan jawaban.
Sungguh menyakitkan ketika alam pikiranku masuk ke lorong waktu dan memaksa menjelajahi setiap ruang masa kelamku yang kusimpan rapi tak tersentuh hingga sekarang. membongkar sisi negatifku, kepicikanku, kepalsuanku, sikap pembangkangku, semuanya sampai aku benar-benar "malu ditelanjangi tak ada ampun".
Aku malu kepada diriku sendiri, setelah lelah bermain diatas panasnya bara cinta, kuguyur begitu saja hingga rintihan sakit si batang kayu memekakan telingaku. Mudah, tinggal ku mohon ampun atas kekhilafan seorang "pesakitan" ini. inilah dosa terbesar dalam hidup seorang "pembangkang". "menyakitkan namun jujur".
Aku baru sadar bahwa ini yang dimaksud dengan sepenggal kalimat yang kuingat dalam buku tersebut, "Tak banyak orang yang berani menghadapi pertanyaan mendasar dalam hidupnya dengan terbuka, karena prosesnya akan sulit dan menyakitkan, mengabaikan pertanyaan ini membuat hidup dijalani dengan tidak sadar".
Entah apa pesan yang tersirat dari pergulatanku ini, sementara roda-roda terus berputar, tanda hidup terus berjalan. tak mungkin kuratapi saja cermin buruk ini. dengan segera kuhabiskan alkohol yang tinggal setengah itu dan beranjak ke dunia mimpi, sambil hati berkeras memburu kesempatan bersimpuh atas dosa-dosa selama ini. "sebelum hatiku jadi beku, otaku jadi debu, dan AKU jadi ABU..."