Senin, 26 Oktober 2009

Emas Berkubang Dalam Lumpur

Rabu, 22 juli kemarin, saya bersama teman-teman pergi ke stasiun Tanah Abang untuk hunting foto. suasana stasiun tak ada yang berbeda dari hari-hari biasanya, masih penuh dengan aktivitas warga ibukota yang penuh dengan kesibukan. Ibu-ibu berjualan di emperan peron, anak kecil bersiap mengamen di kereta yang akan datang, calon penumpang yang terburu-buru takut tertinggal kereta, anak kecil yang tekun sekali mengais sampah di kolong peron, bapak-bapak tua yang tidur lelap di pojok peron dan segudang aktivitas lainnya. seperti saya bilang tadi, tak ada yang berubah, semuanya wajar dan seperti biasanya.

Saya kira inilah yang membuat masalah ini terus berlanjut, yaitu menganggap semua wajar terjadi karena sudah terbiasa. berangkat dari "keterbiasaan" ini lah saya jadi sedikit gelisah. gelisah karena menurut saya anak kecil yang mengais sampah di kolong peron itu bukan lah sesuatu yang biasa terjadi. ini adalah masalah kompleks dan sistematis yang harus segera diselesaikan oleh kita semua, termasuk presiden terpilih nanti (mungkin ga ya??).

Banyak sekali sebenanya masalah yang timbul dan mengakar pada dunia anak Indonesia, ironisnya, kita masih membiarkan hal tersebut terjadi, mulai dari kekerasan terhadap anak, pendidikan berkualitas yang hanya berpihak pada yang mampu, lingkungan yang tidak mendukung perkambangan anak yang baik, masalah anak yang dieksploitasi menjadi pekerja dan masih banyak lagi masalah yang lainnya. pada tahun 2009, ada sekitar 600 ribu anak jalanan di Jabodetabek dan bertambah setiap tahunnya. sumber lain menyebutkan jumlah kasus kekerasan terhadap anak meningkat menjadi 1.891 kasus tahun 2009. apakah kita masih menganggap hal ini sebagai hal yang biasa?

Anak merupakan salah satu manifestasi Indonesia yang harus ditumbuh kembangkan menjadi penyelamat bangsa dari keterpurukan, bayangkan bagaimana Indonesia lima puluh tahun mendatang jika sekarang 40% dari anak Indonesia putus sekolah? seorang bijak pernah berkata masa depan suatu bangsa sangat ditentukan oleh seberapa besar perhatian terhadap anak. ironis sekali ketika ada anak Indonesia yang baru saja memenangi kontes matematika internasional, namun disaat yang sama ada anak yang mungkin dengan potensi yang sama sedang mengais sampah di pinggir jalan.

Pada pembukaan pasal 23 UUD 1945 jelas disebutkan bahwa "Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap-tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia", namun anggaran 20% terhadap dunia pendidikan saja masih sering turun-naik tak tentu. menjelang pemilu, anggaran-anggaran strategis langsung dinaikan, "yaa lumayan buat nambah nilai plus waktu kampanye"...huhh kalau yang itu, wajar lahh hehehehe

Saya kira di Hari Anak Nasional ini bukan sekedar peringatan seremonial biasa saja, namun bagaimana kita menggugat penguasa untuk memikirkan nasib 70juta anak miskin di segala penjuru Indonesia yang tidak mendapat tempat dalam nampan kesejahteraan. bayangkan sudah berapa puluh hari anak nasional yang dilewatkan begitu saja oleh kita sebagai sesuatu yang wajar dan biasa terjadi, ini harus dihentikan..!! saya mengajak kita semua untuk berhenti terbiasa dengan kemiskinan bangsa ini dan melakukan dengan masing-masing cara kita agar anak-anak Indonesia keluar dari lumpur kemiskinan terstruktur ini. SELAMAT HARI ANAK NASIONAL....

baca...pikir...LAWAN...!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar