Sabtu, 07 November 2009

Bukan Generasi Palsu…

"Hayoo…udah pada dukung Bibit- Chandra belom?...kalo belom…cepetan gabung yaa…!”. Kira-kira begitulah bunyi status salah satu teman saya di Facebook. Seiring perkembangan zaman, manusia memang dipermudah dengan teknologi agar segala sesuatu dapat diusahakan seefisien mungkin, termasuk dukungan atau penolakan sesuatu di dunia maya yang sebagian besar diakses oleh kaum muda.

Sebelumnya, saya sering mendapatkan undangan atau teman-teman yang menyarankan saya untuk bergabung pada akun-akun dukung atau tolak sesuatu. Namun hati saya merasa terusik. Apakah segampang itu saya mengonfirmasi tanpa pengetahuan yang jelas terhadap kasus tersebut?

Hati saya mengganjal untuk mengkonfirmasi akun tersebut, sehingga saya lebih memilih mengabaikannya. Alasan saya tentu bukan karena apatis terhadap situasi nasional, namun lebih ke cara ambil bagian dalam parisipasi pokitik yang berbeda.

Jika kita kilas balik ke masa sebelumnya, banyak sejarah yang ditorehkan kaum muda lewat bentuk nyata perjuangan. Pemuda seluruh nusantara bergabung dan mengikrarkan sumpah pemuda, para pemuda yang mendirikan organisasi pertama untuk kaum pribumi demi melawan penjajah, yaitu Boedi Oetomo.

lalu 1998, dimana mahasiswa berbondong-bondong turun kejalan menuntut reformasi yang berakibat lengsernya orang nomor satu selama tiga puluh dua tahun. Hingga 2009, untuk menuntut keadilan, hanya dengan sekali klik konfirmasi untuk dukung atau tolak sesuatu di dunia maya (palsu).

Saya tidak berani mengatakan bahwa ini suatu kemajuan atau kemunduran kaum muda, yang jelas ada perubahan tren kualitas partisipasi politik. Namun jika dilihat dari sejarah, ada substansi yang memudar seiring menebalnya penjajahan dinegeri ini, yaitu semangat perjuangan nyata (bukan palsu) yang mengutamakan proses.

Saya kira keadilan atau apalah cita-cita masyarakat kita tidak akan tercapai hanya dengan mengkonfirmasi dukungan atau penolakan terhadap sesuatu di dunia maya tanpa pengetahuan yang cukup tentang kasus tersebut. Indonesia butuh tindakan nyata.

Tentunya tidak mau kan generasi kita dicap sebagai generasi yang dengan kualitas partisipasi politik yang rendah? Atau lebih buruk lagi, sebagai generasi palsu? Saya sih tidak mau. FBN

Baca…Pikir…Lawan…!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar