Saya yakin semua diantara kita pasti punya kesalahan-kesalahan masa lalu (yang ngga mau ngaku ke laut aje lo, hari gini masih aje ngga jujur). Saya yakin lagi bahwa sebagian besar dari kesalahan-kesalahan itu tidak diiringi kata maaf (kalo lupa, coba deh inget-inget dulu). Ngomongin tentang kesalahan masa lalu sekaligus permintaan maaf-nya, saya jadi teringat akan kisah dari negeri antah berantah.
Di sebuah kampung, terdengar kabar bahwa Kang Sarpin meninggal dunia pukul enam pagi tadi akibat kecelakaan lalu lintas. Sepeda yang ia kendarainya bersama sekuintal beras terlintang di jalanan. Sebuah truk menghajar sepedanya dari belakang saat Kang Sarpin menaiki sepedanya dan oleng akibat kehilanggan keseimbangan. Lelaki lima puluhan tahun itu tewas seketika.
Berita kematian tersebut sampai kepada saya lewat ipar Kang Sarpin sendiri, Dalban. Lekukan mukanya terlihat biasa saja ketika menyampaikan kabar duka itu, mulutnya malah cengar-cengir. Kematian Kang Sarpin tampak bagai bukan berita duka.
Begitu juga di rumah Kang Sarpin, tak tampak suasana duka mendalam dari warga kampung atas kematian Kang Sarpin, mereka duduk-dukuk sambil merokok dan ngopi seperti malam kendurian saja. jika ada yang bermata sembab karena sehabis menangis, hanyalah istri Kang Sarpin, ia berduka seorang diri tampaknya.
“ya, wong gemblung itu sudah meninggal”, oceh Dalban dengan santainya. ”bagaimana dia ngga dibilang wong gemblung, coba denger; suatu ketika di kilang padi orang-orang menantang Sarpin, bila berani membuka celana di depan orang banyak, akan menang lima puluh ribu”. tanpa banyak pikir, telanjang lah ia seketika itu juga, dengan kelamin berayun ia menghampiri si penantang sambil menagih uang taruhan sambil cengengesan. Cerita tersebut di sambut gelak tawa pelawat yang datang, hanya berjarak tiga langkah kaki dari jenasah Kang Sarpin yang terbujur kaku.
Aku menghela nafas agak panjang sambil mengerutkan alis. “ya, memang begitulah dia”, ujarku dalam hati. Orang sekampung sudah paham tabiat Kang Sarpin, jangankan telanjang bulat ddi depan orang, ada lagi tabiat busuknya yang tak kalah tenarnya, ia doyan main perempuan, jangan tanya jumlah perempuan yang ditidurinya, puluhan! Meskipun, ia agak baik dengan berprinsip tidak meniduri wanita bersuami.
Dalban terus mengoceh dan warga terus menyimaknya, ditengah itu saya merenungi peristiwa semalam. Kang Sarpin datang kerumah saya sebelum tengah malam, wajahnya kelihatan berat. Ia diam sejenak saat kutanya maksud dan tujuannya, tepat setelah jangkrik berhenti berbunyi ia memulai ceritanya, “Mas kan tau saya orng begini, orang jelek, wong gemblung, doyan perempuan. Saya merasa orang sekampung akan lebih senang jika saya tak ada lagi, saya itu aib di kampung ini”.
Senyum yang dari tadi kutahan akhirnya lepas juga, “looh, kayaknya semua orang sudah tau siapa kamu, dan sepertinya tak ada orang yang mengusikmu, kenapa harus pusing?”. “saya tidak mau terusan begini mas, saya jadi omongan sekampung, apalagi sebentar lagi saya punya cucu, saya sudah ngga mau jadi wong gemblung, saya ingin jadi wong bener, orang baik-baik, tapi bagaimana yaa?”.
Lagi-lagi saya tak bisa menahan senyum, “loh yang begitu kok tanya saya?, ya dari akang sendiri lah yang rasa, kan semuanya tergantung Kang Sarpin sendiri, kalo mau jadi baik ya jadilah baik, tapi kalo masih mau jadi wong gemblung, ya terserah”.
Wajah Kang Sarpin menunduk berat, aku rasakan penyesalannya di hembusan nafasnya yang tak muda lagi. Lama kami terdiam memberikan izin jangkrik bersuara. “ah mas tidak tau sih apa yang terjadi dalam diri saya, burung saya ini lho mas, burung saya! Betapapun saya ingin berhenti main perempuan, burung saya memaksa, tidak bisa diatur dia. Bila sedang mau, sama sekali ngga bisa dicegah, dia harus dituruti, saya saja jengkel dibuatnya. Saya datang kemari untuk minta bantuan”.
“Saya mau mengebiri burung saya”, ujarnya yakin. Sampai bosan rasanya jangkrik berhenti lalu bersuara lagi, malam itu kami berbincang lama sekali hingga Kang Sarpin yakin ia akan mengebiri burungnya di kampung seberang besok pagi setelah menjual beras.
Saya tersadar ketika semua orang bangkit berdiri, rupanya imam yang ingin menyolatkan Kang Sarpin terakhir kalinya sudah datang. Kini suasana hening, Dalban yang sedari tadi ngoceh juga ikut hening. Setelah melakukan serangkaian doa, jasadnya hendak dimasukan keliang lahat, namun sebelum itu Imam mengutarakan sesuatu, “Saudara-saudara saya meminta kalian bersaksi apakah orang yang hendak kita kubur adalah orang baik-baik?”, semua diam dan saling mengintip berpandangan.
Saya yakin semua orang yang hadir disana serba salah. Masih hening hingga imam bertanya sekali lagi apakah jenasah yang akan dimakamkan adalah orang baik-baik? Tanpa terencana di otak, saya langsung bicara……semua orang tertegun……entahlah, saat itu saya hanya bisa menatap mereka dengan senyuman. Keranda bergerak diarak empat remaja yang memikulnya.
Di mata saya, seorang lelaki yang diujung hidupnya sempat bercita-cita jadi wong bener adalah orang baik. Entahlah bagi orang lain, entah pula bagi Tuhan.
Saya tidak tau harus menyimpulkan apa lagi dari cerita diatas, saya hanya ingin menjalani hidup seperti manusia diujung ajalnya. Saya minta maaf. FBN
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar