Pada kesempatan ini, saya mengajak kita semua untuk melakukan perjalanan ke Danau Tiga Warna, Kelimutu yang berada di utara pulau Flores, tepatnya di Desa Pemo, Kecamatan Moni, Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Menurut beberapa sumber yang ditemui, waktu terbaik menikmati pemandangan di danau alami yang terletak di atas Gunung Kelimutu itu adalah pagi hari saat matahari terbit.
Perjalanan pun dimulai dari kota Ende yang berjarak kurang lebih dua jam dengan kecepatan standar. Kurang lebih pukul 03.30 WITA saya mempersiapkan segala sesuatunya. Tidak begitu mudah akses transportasi menuju ke danau tersebut, namun wisatawan lokal maupun asing biasa memilih untuk menyewa kendaraan lewat agen-agen wisata setempat, atau jika pandai mendekati masyarakat lokal, tidak sulit kita bisa menyewa sepeda motor dari mereka, Seperti yang saya lakukan sekarang. Tapi jangan lupa untuk memeriksa kondisi kendaraan sebelumnya, jangan sampai wisata anda terganggu oleh kendala teknis yang diakibatkan karena kelalaian kita sendiri.
Atau jika kita tidak ingin terburu-buru berangkat dini hari, bisa juga memilih untuk menginap di beberapa home stay yang dikelola oleh penduduk sekitar dengan kisaran harga Rp. 25.000,- hingga Rp. 50.000,-. Atau kita juga bisa menginap di cottage yang disediakan pemerintah setempat dengan kisaran harga Rp. 50.000,- hingga Rp. 75.000,-. Semua tergantung kebutuhan anda.
Kurang lebih dua jam menyusuri jalan berkelok-kelok, jurang dan tebing di sisi-sisinya, serta kondisi jalanan yang kurang begitu mulus di beberapa bagian hingga kita bisa sampai di Kampung Moni, kampung yang terletak di kaki Gunung Kelimutu. Hawa dingin menyengat hingga ke tulang, pakaian hangat lapis tiga yang saya kenakan tak mampu menahannya. Namun untuk satu pemandangan indah, tak mungkinlah saya menyerah.
Dari Kampung Moni, Danau yang pernah masuk nominasi keajaiban dunia itu tinggal berjarak tempuh 45 menit saja. jalan yang saya lalui mulai menyempit dan menanjak, namun pemandangan alam di sisi kiri dan kanan membuat perjalanan melelahkan dan penuh tantangan ini tak terasa. Untuk memasuki taman nasional Kelimutu ini, kita hanya membayar retribusi sebesar dua ribu rupiah saja.
Tibalah saya di titik terakhir pemberhentian kendaraan bermotor. Untuk sampai ke bibir danau, kita masih harus menapaki anak tangga dan jalan bebatuan kurang lebih 20 menit. Bagi anda yang memiliki alergi dingin, disarankan untuk memakai pakaian yang tebal. Kicauan burung dan suara serangga hutan menemani tiap langkah menuju danau yang terletak 1690 meter di atas permukaan laut itu. Tiap langkah saya lalui hingga akhirnya sampailah saya di puncak point of view.
Tergores ciptaan Yang Maha Esa di depan mata, tiga danau berbentuk kawah yang terpisah di sisi kiri dan kanan saya. Danau disebelah kiri saya berwarna hitam kecoklatan atau dalam bahasa daerah disebut Tiwu Ata Mbupu yang Menurut kepercayaan masyarakat lokal, danau tersebut adalah persinggahan arwah-arwah orang tua. Sedang yang di sebelah kanan saya dua danau terpisah tebing tipis, yang berwarna biru muda masyarakat lokal menyebutnya Tiwu Nuwa Muri Ko’o Fai atau danau persemayaman arwah muda-mudi. Sedang yang paling kiri berwarna hijau tua bernama Tiwu Ata Polo, yang dipercayai sebagai persemayaman arwah orang-orang jahat.
Menurut warga lokal yang menemani disitu, Saya termasuk orang yang beruntung karena disambut oleh seekor kera terpisah dari kelompoknya yang berasal dari sekitar lereng Gunung Kelimutu. Masyarakat setempat percaya bahwa danau tersebut adalah danau keramat dan memberikan kesuburan pada daerah sekitarnya, maka tak jarang sering diadakan upacara adat di danau tersebut dimana masyarakat memberikan persembahan hasil bumi kepada arwah di danau yang jika ditotal berukuran 1.051.000 tersebut.
Perubahan Alam, Kepercayaan Abadi
Gunung Kelimutu pernah meletus pada tahun 1886 dan meninggalkan tiga kawah berbentuk danau yang warna airnya dapat berubah-ubah secara tak terduga sesuai dengan kandungan mineral dan cuaca. Perubahan tak terduga warna air danau tersebut menjadikan misteri tersendiri yang belum mampu dipecahkan hingga sekarang. Patut diketahui, dahulu danau ini pernah berwarna merah, putih dan biru.
Bagai dua sisi mata uang yang tak mampu dipisahkan, perubahan alami berjalan harmonis dengan kepercayaan abadi masyarakat lokal membuat danau ajaib ini menjadi daya tarik sendiri bagi semua orang terkhusus bagi anda penggiat alam bebas dan penggemar pemandangan alam. FBN
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar